Inilah Penyebab Harga Beras Sulit Turun

jatimkini.com

Harga beras di Malang, Jawa Timur, nyatanya belum turun meski pemerintah daerah gencar menggelar operasi pasar.

"Harga beras sepertinya masih tetap," tegas Yani, pedagang beras di pasar Oro Oro Dowo Kota Malang, Selasa (21/2).

Yani menjual beras medium kemasan Rp12.000-Rp12.500 per kg. Beras medium eceran Rp11.500 per kg. Adapun beras premium Rp75.000 per 5 kg.

Sedangkan beras bulog di pasar itu semula Rp43.000 per 5 kg menjadi Rp45.000. Pantauan harga di pasar Klojen, harga beras medium juga Rp12.500 per kg.

Dengan demikian klaim Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Kota Malang Eko Sri Yuliadi yang menyatakan harga beras stabil Rp9.500 per kg tak sesuai dengan keadaan pasar. Sebab, pedagang menjual beras termurah selain beras bulog Rp11.500 per kg.

Posisi harga beras di pasar Rp12.500 per kg itu lantaran harga di penggilingan Rp12.000 per kg. Hal itu diungkapkan Erfan, petani di Desa Tunjungtirto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Bahkan, gabah kering panen di Kecamatan Sumberpucung Rp6.000 per kg dari semula Rp5.500 per kg.

"Harga gabah kering panen di Singosari Rp5.500 per kg atau Rp550.000 per kuintal," kata Erfan.

Harga gabah kering panen itu di atas harga pembelian pemerintah yang dipatok Rp4.200-Rp4.550 per kg.

Sedangkan satu kuintal beras ketika digiling menghasilkan 52 kg beras. Dengan harga beras rata-rata Rp12.000 per kg, maka petani mendapatkan Rp624.000 per kuintal gabah. Majid, petani di Tunjungtirto menyatakan panen satu hektare sawah menghasilkan rata-rata 6 ton-7 ton gabah. Hasil panen itu masih dipotong biaya perawatan sampai pascapanen.

"Jadi, keuntungan petani mepet karena kebanyakan mereka pemilik lahan di bawah satu hektare," ucap Majid.

Peneliti Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi (PPKE) Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Joko Budi Santoso menyatakan akar masalah gejolak harga beras karena lemahnya manajemen informasi data antara kebutuhan beras untuk konsumsi rumah tangga dengan industri. Selain itu, sistem rantai distribusi yang terlalu panjang dari produsen ke konsumen berimbas pada marjin penjualan yang tinggi.

"Solusinya manajemen data diperbaiki, rantai distribusi dipangkas, tingkatkan produksi sembari menjaga keberlanjutan subsidi pupuk," ungkapnya.

Selanjutnya, daerah yang konsisten mempertahankan pertanian diberi insentif fiskal. Termasuk pemerintah harus mulai mengembangkan sistem resi gudang guna mencegah petani terjerat ijon yang merugikan.

Editor : Redaksi

Ekonomi
Berita Populer
Berita Terbaru