JATIMKINI.COM, Bank Indonesia (BI) menyiapkan sedikitnya 3 strategi kunci untuk mengejar ketertinggalan inklusi keuangan syariah yang menjadi penyebab turunnya peringkat Halal Value Chain Indonesia dari posisi 3 ke posisi 4 dunia.
Gubernur BI, Destry Damayanti, mengatakan pasar halal global pada 2024 mencapai US$ 2,6 triliun. Indonesia sebenarnya kuat di sektor riil seperti modest fashion dan makanan halal yang bahkan diminati pasar non-muslim di Jepang, Korea, hingga Australia.
"Ranking 4 ini menurun dari ranking 3 tahun sebelumnya. Turunnya bukan di fesyen dan makanan, tapi khususnya di keuangan syariah. Jadi PR-nya masih banyak sekali," ujar Destry dalam sambutan FESyar Jawa 2026, Grand City Convex Surabaya, Sabtu (26/9/2026).
Destry membeberkan timpangnya kondisi keuangan syariah. Keuangan konvensional inklusinya sudah 94% tapi literasi hanya 60%. Sebaliknya, keuangan syariah literasinya tinggi tapi inklusinya rendah karena jaringan bank syariah terbatas dan produknya tidak banyak.
"Kita banyak fatwa, kita kaku. Sehingga kita kalah dengan Malaysia, bahkan dengan Arab," katanya.
Kondisi ini bahkan dimanfaatkan negara non-muslim seperti Thailand dan Vietnam yang berambisi menjadi pusat keuangan syariah dunia.
"Thailand tiba-tiba mau jadi Financial Economy Hub, rasanya nggak rela," tegasnya.
Untuk itu, BI bersama Dewan Syariah Nasional (DSN), Majelis Ulama Indonesia (MUI), OJK dan pakar menyiapkan langkah impactfull. Pertama, Penguatan ekosistem rantai nilai halal yang terintegrasi. Yakni menyatukan sisi supply, demand, dan penunjang sebagai satu kesatuan, dari pesantren, UMKM, hingga lembaga keuangan.
Kedua, mendorong produk dan pembiayaan syariah yang kompetitif. Yakni mendorong lahirnya lebih banyak varian produk keuangan syariah agar bisa bersaing. BI mencatat sudah ada kemajuan dengan dilakukannya REPO syariah.
Ketiga, perluasan literasi dan inklus. Yakni mendorong bank syariah lebih agresif keluar dan mengenalkan produk. Karena selama ini informasi belum masif dan jangkauan masih terbatas.
"Value dari syariah itu sudah masuk, mau agama apapun sudah masuk. Pembangunan yang tidak sustainable akan ditinggalkan. Potensi kita luar biasa, ini yang harus kita dorong," pungkas Destry.
Editor : Peni Widarti