JATIMKINI.COM, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menegaskan kebijakan kesehatan di Jatim tidak boleh hanya teknokratis, tapi harus memperhatikan realitas lapangan termasuk tren nongkrong dan work from cafe yang kini jadi gaya hidup baru.
Hal itu disampaikan Emil saat membuka Focus Group Discussion (FGD) Pola Hidup Sehat dan Perilaku Konsumsi Masyarakat Jawa Timur yang digelar Yayasan Generasi Inovatif dan Tunas Unggul (Yagitu) di Surabaya, Selasa (30/6/2026). FGD ini menindaklanjuti riset Yayasan Generasi Inovatif dan Tunas Unggul (Yagitu) terhadap 437 responden di Jatim.
"Kita ingin riset ini bukan menjadi produk yang hanya disusun secara teknokratik, tetapi juga memperhatikan realitas di lapangan. Karena itu kita libatkan pelaku usaha, komunitas, akademisi, hingga masyarakat agar kebijakan yang lahir benar-benar implementatif," kata Emil dalam sambutannya di FGD.
Menurutnya, dalam membuat kebijakan kesehatan harus mencari keseimbangan antara produktivitas ekonomi yang menyediakan lapangan kerja dan bagaimana menjaga kesehatan masyarakat.
Kafe Tumbuh, Tapi Konsumsi Gula Tinggi
Emil menilai tantangan terbesar saat ini adalah mencari titik temu antara pertumbuhan ekonomi melalui dunia usaha dengan perlindungan kesehatan masyarakat.
"Kita harus mencari titik temu antara pertumbuhan ekonomi melalui dunia usaha dengan perlindungan kesehatan masyarakat. Tidak ada solusi yang bisa sekadar disalin dari negara lain karena kita juga harus memperhatikan kearifan lokal," ujarnya.
Ia menyoroti penyakit tidak menular akibat gaya hidup kini jadi tantangan besar pasca pandemi Covid-19.
"Persoalannya bukan hanya apa yang dikonsumsi, tetapi juga gaya hidup. Sedentary lifestyle, kurang bergerak, hingga kebiasaan menggunakan gawai menjadi faktor yang ikut meningkatkan risiko penyakit tidak menular," tegas Emil.
Untuk itu, Emil mendorong agar dimulai dari pengetahuan menuju perilaku. Bagaimana masyarakat masing-masing memahami kesehatan dirinya.
"Bahwa apa yang dikonsumsi dan dampaknya kepada dirinya, dan sejauh mana dampak itu akan berubah. Kalau konsumsinya ekstrem, seperti telur pun bisa bikin bisul kalau berlebihan walaupun itu protein yang bagus," tutupnya.
Gap Niat dan Eksekusi Hidup Sehat
Sekretaris Yagitu, Nuryadi, memaparkan hasil riset yang menjadi dasar FGD. Menurutnya, anak muda adalah sumber daya pembangunan dan Generasi Emas 2045 tidak akan terwujud tanpa kondisi anak muda yang sehat.
"Karena semuanya berawal dari kesehatan, baru kecerdasan dan aspek lainnya bisa mengikuti," ujar Nuryadi.
Riset menemukan masyarakat sebenarnya paham pentingnya pola hidup sehat. Namun ada kesenjangan antara pengetahuan dengan praktik.
"Gap terbesar ada pada niat dan eksekusi. Mereka tahu pentingnya hidup sehat, tetapi terkendala konsistensi, keterbatasan waktu, biaya, serta lingkungan sosial yang belum mendukung," katanya.
Fakta lain, budaya nongkrong dan tren work from cafe membentuk pola konsumsi baru. Sebanyak 56% responden mengaku lebih sering mengonsumsi makanan dan minuman olahan di kafe, kedai maupun warung. Minuman paling banyak dikonsumsi adalah teh dan kopi.
"Fenomena ini sebenarnya baik dari sisi ekonomi karena mendorong tumbuhnya usaha. Namun, di sisi lain kita juga melihat tempat-tempat tersebut menjadi lokasi konsumsi gula yang cukup tinggi. Tantangannya bagaimana ekonomi tetap tumbuh, tetapi masyarakat juga tetap sehat," jelas Nuryadi.
Riset juga mencatat 41,2% responden mengonsumsi makanan dan minuman manis karena menikmati rasanya, 23,1% sebagai penambah energi, dan 14,9% karena faktor budaya serta kebiasaan.
Harapan terbesar masyarakat ke pemerintah: memperkuat edukasi dan kampanye hidup sehat 33%, memperbanyak fasilitas olahraga publik 20,8%, serta mempermudah akses terhadap pangan sehat.
Arah Kebijakan: Intervensi di Kafe dan Warung
Koordinator Litbang Brida Jatim, Wiwik Winarsih, mengapresiasi riset Yagitu karena memotret kesenjangan pemahaman dengan praktik hidup sehat.
"Saya yakin hasil penelitian ini bisa menjadi bahan edukasi bagi masyarakat sehingga mereka tahu di titik mana harus mulai memperbaiki pola hidupnya," ujarnya.
Wiwik mengingatkan prevalensi obesitas, diabetes, hipertensi hingga penyakit ginjal kini makin banyak di usia muda.
"Kita menghadapi beban ganda, mulai stunting, obesitas hingga kekurangan zat gizi mikro. Karena itu penanganannya harus dilakukan secara bersama-sama," tegasnya.
Akademisi UINSA Surabaya, Irfan, mendorong edukasi kesehatan bergeser dari normatif ke perubahan perilaku yang praktis.
"Masyarakat sebenarnya sudah tahu gula berlebihan itu tidak baik. Yang mereka butuhkan adalah panduan praktis, misalnya memilih minuman less sugar, mengganti satu minuman manis setiap hari dengan air putih, atau membiasakan membaca label kandungan gula," katanya.
Irfan menyebut warung, kedai, minimarket dan kafe adalah ruang strategis untuk membangun perilaku hidup sehat.
"Misalnya menyediakan pilihan menu rendah gula sebagai menu utama atau memberikan insentif bagi pelaku usaha yang menyediakan produk lebih sehat," ujarnya.
Melalui FGD tersebut, Yagitu berharap hasil penelitian jadi dasar rekomendasi kebijakan yang mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju gaya hidup sehat tanpa mengabaikan pertumbuhan ekonomi daerah.
Editor : Peni Widarti