JATIMKINI.COM, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) telah menggelar Rapat Kerja Tahunan 2026 bersama seluruh anggota Kelompok Usaha Bank (KUB) pada 20 dan 21 Mei 2026 di Jakarta.
Kegiatan tersebut menjadi momentum strategis dalam memperkuat sinergi, kolaborasi, dan transformasi bisnis antar bank daerah guna menghadapi tantangan industri perbankan yang semakin dinamis.
Direktur Utama Bank Jatim Winardi Legowo menjelaskan, forum ini membahas berbagai strategi penguatan bisnis, percepatan transformasi digital, peningkatan tata kelola perusahaan, serta pengembangan ekosistem layanan keuangan yang terintegrasi.
Penyelenggaraan Rakerta 2026 juga merupakan bentuk komitmen bersama dalam memperkuat posisi KUB Bank Jatim sebagai salah satu kekuatan utama perbankan daerah di Indonesia.
”Melalui rapat kerja tahunan ini, seluruh anggota KUB Bank Jatim berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi bisnis, meningkatkan daya saing, serta mendorong inovasi layanan keuangan yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat dan perkembangan teknologi,” ujarnya dalam siaran pers, Jumat (22/5/2026).
Dalam agenda tersebut, Bank Jatim menegaskan fokus strategi 2026 yang meliputi penguatan fundamental bisnis, percepatan digitalisasi layanan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta optimalisasi potensi ekonomi daerah melalui kolaborasi antar anggota KUB.
Selain itu, forum ini turut menjadi wadah evaluasi kinerja tahun sebelumnya sekaligus penyusunan langkah strategis untuk mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan di seluruh jaringan KUB Bank Jatim. Beberapa agenda penting yang dibahas mencakup penguatan infrastruktur teknologi informasi, peningkatan operasional, hingga pengembangan layanan digital terintegrasi.
Skema KUB antara Bank Jatim dan seluruh anggota tidak hanya penting dalam memperkuat struktur permodalan bank daerah, tetapi juga membuka ruang transformasi kelembagaan dan peningkatan daya saing BPD di era digital.
"Sehingga kami optimis sinergi yang terjalin melalui KUB akan mampu memperluas akses layanan keuangan, memperkuat daya tahan industri perbankan daerah, serta memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi," ujarnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak juga menyoroti pentingnya penguatan Kelompok Usaha Bank (KUB) sebagai strategi transformasi bersama bagi Bank Pembangunan Daerah (BPD) agar tetap kompetitif di tengah dinamika industri perbankan global.
Ia berharap KUB Bank Jatim bisa menjadi role model penguatan sektor perbankan yang ada di Indonesia melalui kinerja positif bersama dengan seluruh anggota KUB lainnya.
“Saya yakin KUB Bank Jatim dapat menjadi role model nasional, menghadirkan kolaborasi yang sehat dan produktif, memperkuat konektivitas ekonomi Indonesia Timur, serta memberikan multiplier effect bagi pembangunan daerah,” terangnya.
Menurutnya, KUB harus dipandang bukan sekadar pemenuhan regulasi, melainkan strategi transformasi untuk memperkuat daya saing dan akselerasi ekonomi daerah.
KUB ini menjadi sebuah bentuk hal baik kebersamaan antar Gubernur yang mendukung program nasional dalam program perbankan dengan semangat kolaborasi mewujudkan bank pembangunan daerah yang sehat, baik secara tata kelola maupun menggerakkan daya saing antar daerah bersama-sama.
"Rapat Kerja Bersama ini momentum penting yang menghadirkan OJK, BPD maupun masing masing Pemprov yang menjadi bagian KUB untuk membangun kolaborasi dan sinergi menggerakkan daya saing daerah secara bersama sama," jelasnya.
Lebih lanjut, Emil mengapresiasi kinerja Bank Jatim yang dinilai solid dan resilien sepanjang Tahun Buku 2025. Emil memandang bahwa KUB tidak berhenti pada pembentukan struktur, tetapi harus menghasilkan strategi nyata yang menciptakan Shared Growth, penguatan kapasitas dan value cretion bersama.
"KUB bisa menjadi jawabaan penguatan perbankan dan menjawab tantangan hari ini untuk menguatkan strategic aliance," jelasnya.
Emil menerangkan, pertumbuhan aset, kredit, dana pihak ketiga, hingga laba menunjukkan fondasi yang kuat bagi akselerasi bisnis ke depan.
Di sisi transformasi digital, Bank Jatim juga mencatat capaian positif dengan lebih dari 993.000 pengguna aplikasi JConnect, nilai transaksi digital mencapai Rp65,77 triliun, serta peningkatan transaksi QRIS sebesar 60,76% secara year on year.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi industri perbankan saat ini semakin kompleks, mulai dari perlambatan ekonomi global, kompetisi dengan fintech dan platform digital, disrupsi teknologi, perubahan perilaku nasabah, hingga risiko siber.
Dalam situasi ini, BPD tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Diperlukan penguatan skala, kolaborasi, dan sinergi agar tetap relevan dan kompetitif.
"Kami berpesan agar seluruh kemitraan dalam KUB berkomitmen bersama terutama pada penyamaan arah seluruh anggota KUB, penguatan implementasi sinergi strategis, transformasi berkelanjutan dan kolaboratif hingga optimisme terhadap masa depan KUB Bank Jatim," tutupnya.
Deputi Komisioner Pengawas Bank Pemerintah, Syariah dan Perbankan Daerah OJK Defri Andri mengatakan, BPD masih memiliki ketahanan yang solid untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi saat ini.
Ketahanan itu tercermin dari tingkat permodalan alias capital adequacy ratio (CAR) BPD yang tercatat di level 26,19%. Lebih tinggi dibandingkan rata-rata CAR industri sebesar 25,09%.
Sehingga dengan pembentukan KUB, lanjutnya, permodalan BPD akan semakin terjaga. Pasalnya, BPD yang sudah lebih dulu solid bisnisnya jadi bisa mendukung permodalan BPD yang masih berkembang.
"Sinergi bisnis yang dibangun di dalam KUB diharapkan tidak hanya terbatas pada aktivitas perbankan. Namun juga mendorong sinergi ekonomi antar daerah,” imbuhnya.
Editor : Peni Widarti