JATIMKINI.COM, Pendidikan tidak hanya bicara soal pendidikan formalitas saja yang mendapatkan fasilitas pendidikan yang layak. Namun pendidikan setidaknya mampu menaungi anak – anak Indonesia ke jenjang yang lebih tinggi meski mempunyai kekurangan secara fisik.
Universitas Airlangga dalam mengembangkan pengabdian masyarakat melakukan penelitian terhadap pendidikan disabilitas. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB Unair) mendukung diseminasi riset dan penyandang disabilitas.
Kegiatan ini merupakan bagian dari kolaborasi internasional yang didukung Brtisis Council bersama University of Southampton, United Kingdom. Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan (LPMB) Universitas Airlangga (Unair) Prof. Hery Purnobasuki, M.Si., Ph.D mengatakan, Unair melakukan pembangunan berkelanjutan salah satunya pengabdian masyarakat untuk pendidikan inklusi.
“Kami juga mengurusi pembanguan berkelanjutan yang masuk dalam ranah tujuan no.4 terkait dengan pendidikan inklusi,”ujar Prof. Hery.
Terkait dengan inklusi, fasilitas yang ada di kampus Unair cukup memadai. Beberapa fasilitas diperuntukan mahasiswa disabilitas.
“Saya rasa kita harus peduli dengan mahasiswa disabilitas, di kampus kami sudah ada fasilitas fisik yang bisa digunakan mahasiswa disabilitas,”katanya.
Prof Hery menambahkan dalam sisi konten pendidikan setidaknya dapat menyampaikan setara dengan mahasiswa non disabilitas. Secara pendidikan mampu menyampaikan materi sehingga dapat diterima seperti mahasiswa lainnya.
“Secara bertahap kami memberikan fasilitas itu, di Unair ada aturannya terutama di tempat – tempat tertentu begitu juga dengan penggunaannya. Penyampaian materi juga begitu disamakan dengan yang mahasiswa pada umumnya,”tutur Prof Hery.
Sementara mahasiswa disabilitas seringkali mendapat perlakukan yang tidak menyenangkan, salah satu bullying. Prof Hery menyampaikan mahasiswa disabilitas mendapat pendampingan dari divisi yang sudah dibentuk Unair.
“Masalah pembulyyian kami ada unit sendiri untuk menangani hal tersebut, termasuk pelecehan seksual. Kita terus melakukan evaluasi mungkin masih ada kurang, kita berusaha untuk memperbaiki,”ungkapnya.
Selain mahasiswa disabilitas , Unair juga menerima dosen maupun karyawan disabilitas. Namun tidak semua fakultas menerima mahasiswa disabilitas. Hanya saja ada fakultas tertentu yang tidak bisa menerima mahasiswa disabilitas.
“Seperti Fakultas Farmasi, mahasiswa buta warna tidak boleh masuk dalam Fakultas farmasi. Karena belajar tentang obat ada warna tertentu, takutnya salah meracik,”ujarnya.
Menghadapi dunia kerja setelah lulus nanti, Unair juga melakukan pembekalan terhadap mahasiswa disabilitas. Pembekalan sangatlah penting untuk menghadapi dunia kerja nantinya.
“Pembekalan itu kami berikan kepada semua mahasiswa sebelum lulus, mahasiswa disabilitas juga mendapat pembekalan,”ujarnya.
Editor : Ali Topan