JATIMKINI.COM, Siang itu, Rabu (5/3/2026), ruang rapat Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya di Gedung Siola, Jalan Tunjungan, menjadi saksi lahirnya kepemimpinan baru Dewan Kebudayaan Surabaya (DKS).
Namun satu peserta rapat mengikuti proses itu dari tempat yang tak biasa dari atas kapal dalam perjalanan pulang dari Ambon.
Ia adalah Heti Palestina Yunani.
Melalui sambungan Zoom dari tengah perjalanan laut, wartawan Disway itu ikut terlibat dalam rapat penyusunan struktur kepengurusan DKS.
Pada akhir proses pemungutan suara terbuka, Heti justru keluar sebagai pemenang dan terpilih sebagai ketua. Ia kemudian menunjuk Probo Darono Yakti sebagai sekretaris.
Proses pemilihan berlangsung cukup dinamis. Empat nama diajukan sebagai kandidat ketua, yakni Heti Palestina Yunani, Heri “Lentho” Prasetyo, Probo Darono Yakti, dan Heroe Boediarto.
Pada tahap awal pemungutan suara, Heti dan Heri Lentho sama-sama memperoleh lima suara. Persaingan menjadi semakin menarik ketika tiba pada babak penentuan. Saat itulah Heti menggunakan hak suaranya sendiri yang akhirnya menjadi suara penentu kemenangan dengan selisih satu suara.
“Secara pribadi saya tidak menyangka akan dibawa sampai menerima tugas ini. Semula ikut musyawarah saja tidak bisa karena hendak ke Ambon, tapi bisa saya tunda,” ujar Heti.
Ia menuturkan bahwa pada tahap pemilihan pengurus sebelumnya, ketika setiap peserta memiliki tiga suara untuk memilih kandidat, ia justru memberikan seluruh suaranya kepada orang lain.
“Saya tidak menggalang suara dan tidak mempengaruhi siapa pun untuk memilih. Tapi ternyata tetap mendapat dukungan hingga masuk tiga besar,” katanya.
Namun ketika penyusunan struktur berlangsung, ia memilih menggunakan hak pilihnya sendiri.
“Pada saat penyusunan struktur baru saya gunakan hak suara saya yang menentukan karena itu sudah menyangkut kesanggupan dan komitmen,” jelas alumni Fakultas Antropologi Universitas Airlangga tersebut.
Menurut Heti, jabatan ketua dalam Dewan Kebudayaan Surabaya tidak dimaknai sebagai arena kompetisi jabatan.
“Ini bukan persaingan menjadi ketua. Posisi ini hanya fungsi koordinatif karena seluruh anggota akan bekerja secara kolektif dan kolaboratif,” tuturnya.
Seleksi dari 140 Pendaftar
Pemungutan suara tersebut dilakukan oleh para anggota pengurus DKS yang telah lolos proses seleksi.
Mereka adalah Achmad Zaki Yamani, Bagus Heri Setiadji, Dhany Nartawan, Hery Prasetyo (Heri Lentho), Heroe Boediarto, Heti Palestina Yunani, Jarmani, Probo Darono Yakti, Ris Handono, Rojil Nugroho Bayu Aji, Rokim Dakas, Sekar Alit Santya Putri, dan Yogi Ishabib.
Nama-nama tersebut merupakan hasil penyaringan dari sekitar 140 pendaftar, yang kemudian mengerucut setelah dinyatakan lolos fit and proper test oleh tim penguji yang diinisiasi Disbudporapar Kota Surabaya.
Menandai Transformasi Dewan Kebudayaan
Bagi Heti, terbentuknya kepengurusan baru DKS diharapkan menandai dimulainya transformasi dalam tata kelola kebudayaan kota.
“Dengan terbentuknya DKS, Surabaya diharapkan memasuki era baru yang diikuti dengan transformasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa paradigma kerja DKS saat ini berbeda dibandingkan sebelumnya, terutama terkait tugas dan kewenangan lembaga.
Dalam konsep baru tersebut, Dewan Kebudayaan Surabaya diposisikan sebagai mitra strategis wali kota dalam merumuskan kebijakan kebudayaan.
Selain itu, lembaga ini juga memiliki fungsi memantau, mengawasi, dan mengevaluasi implementasi kebijakan kebudayaan di Kota Surabaya.
Struktur organisasi DKS terdiri atas ketua, sekretaris, serta bidang kuratorial dan kebijakan. Fokus kerjanya adalah merumuskan kebijakan serta mendorong pemberdayaan komunitas pekerja kreatif.
Karena perannya bersifat konseptual dan strategis, DKS tidak diperkenankan menyelenggarakan kegiatan atau acara secara langsung.
Oleh sebab itu, dalam struktur kelembagaan tidak terdapat posisi bendahara.
Pihak Disbudporapar menyatakan tidak ada dana hibah untuk DKS.
Sungguhpun begitu Dewan Kebudayaan Surabaya diharapkan menjadi ruang pemikiran strategis bagi perkembangan kebudayaan kota, sekaligus jembatan antara pemerintah daerah dan komunitas pekerja seni serta kreatif di Surabaya.
Editor : Ali Topan