JATIMKINI.COM, Universitas Airlangga (Unair) Surabaya menggelar forum strategis pimpinan dan anggota senat akademik Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia pada 6 - 7 Februari 2026 di Gedung Airlangga Convention Center (ACC) Unair Kampus MERR-C.
Sidang paripurna ini digelar untuk membahas arah kebijakan pendidikan tinggi di tengah tantangan global yang kian dinamis. Dr (HC) Drs H Muhammad Jusuf Kalla yang hadir sebagai salah satu pembicara utama menyampaikan materi bertajuk aspek ekonomi makro terhadap perkembangan pendidikan tinggi dan SDM unggul.
Topik tersebut dinilai relevan mengingat kondisi perekonomian global yang fluktuatif turut mempengaruhi tata kelola, pembiayaan, dan daya saing perguruan tinggi.
“Pendidikan tinggi dan ekonomi makro memiliki hubungan yang saling mempengaruhi. Stabilitas ekonomi menjadi pondasi penting bagi penguatan riset, inovasi, serta peningkatan kualitas lulusan. Tanpa dukungan ekonomi yang kokoh, perguruan tinggi akan menghadapi keterbatasan dalam mengembangkan kapasitas akademik dan infrastruktur,” tutur Jusuf Kalla dalam forum tersebut.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang stabil memungkinkan negara berinvestasi lebih besar pada pendidikan dan riset. Selain itu, pendidikan tinggi yang kuat akan melahirkan sumber daya manusia unggul yang mendorong pertumbuhan ekonomi itu sendiri.
Jusuf Kalla turut menekankan pentingnya kebijakan ekonomi yang berpihak pada penguatan sektor pendidikan sebagai investasi jangka panjang. Sebab, pembangunan SDM tidak bisa terlepas dari perencanaan ekonomi nasional yang terarah dan berkelanjutan.
“Perguruan tinggi harus mampu membaca arah perkembangan ekonomi global. Kurikulum, riset, dan inovasi harus adaptif terhadap kebutuhan industri dan perubahan teknologi. Jika tidak, kita akan tertinggal dalam persaingan,” tegasnya.
Ditanya soal kasus anak sekolah dasar yang nekat bunuh diri karena permintaan alat tulis yang tidak dipenuhi orang tuanya, mantan wakil presiden ini menyebut hal peristiwa itu terjadi karena faktor kemiskinan.
“Di Indonesia masih terjadi kemiskinan, penyebabnya ya dari kemiskinan saja,” ujarnya sambil menyudahi sesi wawancara dengan awak media.
Editor : Peni Widarti