JATIMKINI.COM, Suara mesin espresso bergema lembut di sudut lobi Midtown Hotel Surabaya. Aroma kopi berpadu dengan wangi buah beri dan oat milk yang hangat. Di balik meja bar, dua barista tampak sibuk menakar bahan, mengaduk perlahan, lalu menuangkan cairan berwarna lembut ke dalam gelas kaca.
Tidak ada percakapan lisan di antara mereka, hanya gerakan tangan dan tatapan yang saling memahami. Begitulah cara Della dan Rio, dua barista disabilitas pendengaran dari Kopi Tutur Rasa, berbicara dengan dunia—melalui kopi.
Dalam rangka merayakan satu tahun kehadirannya, Kopi Tutur Rasa mempersembahkan menu spesial: Berry Fit Latte. Sebetulnya sajian ini bukan soal edisi terbatas yang hanya tersaji Desember 2025. Di dalamnya menjadi simbol kreativitas dan inklusivitas yang menjadi ruh dari coffee corner yang berbasis di Midtown Hotel Surabaya.
Berry Fit Latte adalah hasil kolaborasi Della dan Rio. Della, yang gemar rasa buah segar, ingin menghadirkan sentuhan stroberi dan lemon. Rio, di sisi lain, sosok penyuka kopi hitam tanpa gula.
Keduanya lalu menyatukan dua karakter itu ke dalam satu racikan: kombinasi espresso, stroberi, lemon, dan oat milk, yang dimaniskan dengan stevia, yakni pemanis alami.
Hasilnya adalah minuman dengan rasa yang creamy dan fruity sekaligus ringan di tenggorokan—kopi yang sehat tanpa kehilangan jiwa.
“Berry Fit Latte bukan hanya tentang rasa, tapi juga tentang semangat dan kreativitas teman-teman tuli yang setiap hari menghadirkan inspirasi di balik bar kopi kami,” ujar William Sihombing, Public Relation Midtown Hotel Surabaya melalui surat elektroniknya.
Peluncuran menu ini menjadi puncak perayaan satu tahun Kopi Tutur Rasa, tempat yang sejak awal dirancang sebagai ruang pemberdayaan ‘anak-anak istimewa’. Di sini, kopi bukan hanya soal cita rasa, tapi juga cara untuk menyampaikan pesan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya.
Willy, sapaannya, menyebut Berry Fit Latte hanya seharga Rp30 ribu per porsi. Tapi bukan soal harga. Kopi Tutur Rasa menawarkan lebih dari sekadar minuman sehat.
Ia menyuguhkan cerita tentang kerja sama, keberanian, dan kemampuan untuk “berbicara” tanpa kata. Della dan Rio menunjukkan bahwa rasa bisa menjadi bahasa universal—yang tak memerlukan suara, hanya ketulusan dan dedikasi.
Sejak berdiri, Kopi Tutur Rasa memang dikenal karena memiliki misi mengangkat semangat inklusi di dunia kuliner. Melalui setiap cangkir kopi, mereka ingin mengingatkan bahwa “setiap rasa punya cerita, dan setiap cerita layak untuk didengar.”
Kini, lewat Berry Fit Latte, cerita itu disajikan dalam bentuk yang paling sederhana sekaligus paling bermakna: secangkir kopi yang bicara dengan hati.
Editor : Rochman Arief