JUMLAH anak dengan spektrum autis di Indonesia kian terlihat meningkat. Sebagian orang mengaitkannya dengan faktor lingkungan—mulai dari polusi, efek rumah kaca, penggunaan pestisida, hingga logam berat yang terakumulasi di tubuh.
Sebagian lagi menilai peningkatan itu justru karena kesadaran masyarakat yang lebih tinggi: diagnosis makin dini, stigma mulai terkikis, dan orang tua tak lagi menyembunyikan anak autis dari ruang publik.
Namun, di balik tumbuhnya kesadaran, muncul pertanyaan yang lebih besar: bagaimana penyandang autis bisa diterima dalam dunia kerja?
Pertanyaan ini bukan sekadar urusan sosial, melainkan bagian dari komitmen global terhadap Sustainable Development Goals (SDGs)—khususnya terkait pendidikan inklusif, ketenagakerjaan layak, serta pengurangan ketimpangan.
Dari Deteksi Dini ke Intervensi
Era digital memberi peluang baru. Gadget kini tak hanya dianggap sebagai pengalih perhatian, tetapi juga media deteksi dan intervensi. Berbagai aplikasi dibuat untuk membantu orang tua mengenali tanda-tanda autis sejak dini sebelum mendapat diagnosis resmi dari psikolog atau dokter.
“Begitu ada diagnosa, harus ada reaksi dari kita. Tidak boleh ragu atau denial. Intervensi dini itu penting,” ujar Chusnur Ismiati Hendro, owner dari Agca Autism Center, di sela jagongan bareng bersama Rumah Literasi Digital Surabaya, Senin (29/9/2025) petang.
Selain itu, gadget dimanfaatkan untuk pembelajaran remedial berbasis repetisi dan imitasi—cara belajar yang paling efektif bagi sebagian anak autis. Meski begitu, penggunaan tetap harus dibatasi: tidak lebih dari tiga jam per hari, dan difokuskan pada kegiatan yang bermanfaat.
Lingkungan, SDGs, dan Autisme
Faktor lingkungan juga kerap disebut berperan. Anak-anak yang tinggal di kawasan industri atau daerah dengan kadar timbal tinggi lebih rentan menunjukkan gejala autistik. Polusi udara, penggunaan plastik berlebihan, hingga residu pengawet dalam makanan memperburuk keadaan.
“Solusinya, bukan hanya intervensi medis, tapi juga intervensi ekologis. Misalnya menanam pohon untuk memperbaiki kualitas udara,” tegas Bu Indro, sapaannya.
Termasuk mengurangi plastik sekali pakai, serta memastikan pangan sehat bebas pestisida bisa menjadi bentuk keterkaitan antara isu autisme dan SDGs, terutama poin tentang kesehatan, lingkungan berkelanjutan, dan ketahanan pangan.
Jalan Menuju Dunia Kerja
Di Indonesia, masih ada stigma bahwa sekolah autis itu mahal. Padahal, yang membuat mahal bukan soal fasilitas, tapi juga intervensi yang intensif. Banyak keluarga yang akhirnya harus terlibat langsung, menjadi terapis bagi anak, agar pendidikan tetap bisa berlanjut.
Tantangan sesungguhnya muncul ketika anak-anak tumbuh dewasa dan memasuki dunia kerja. Bagaimana perusahaan, sekolah, dan pemerintah bisa memastikan penyandang autis tidak terpinggirkan? Bagaimana mereka bisa memperoleh pekerjaan yang layak, sesuai kemampuan, sekaligus mandiri secara ekonomi?
Beberapa komunitas menunjukkan bahwa hal itu mungkin. “Ada anak autis yang piawai melukis kereta api dengan detail dan luar biasa, hingga karyanya dilelang dan dikoleksi perusahaan besar,” imbuh Bu Indro.
Mereka membuktikan: autisme bukan penghalang untuk berkarya, melainkan bentuk keberagaman manusia.
Pesan untuk Orang Tua dan Masyarakat
“Anak autis adalah varian terbaik ciptaan Tuhan. Kalau ada kekurangan, kewajiban kita untuk mencukupkan,” Chusnur memungkasi.
Pesannya sederhana: jangan menyalahkan diri sendiri, jangan menyerah, dan jangan bosan mendampingi. Edukasi, intervensi dini, dan pemberdayaan ekonomi keluarga adalah kunci agar penyandang autis bisa tumbuh, belajar, dan kelak hidup mandiri di tengah masyarakat.
Editor : Rochman Arief