JATIMKINI.COM, Hidup Oei Hiem Hwie adalah potret ketabahan dan cinta sejati pada ilmu pengetauan. Sosok yang akrab disapa Pak Wie ini berpulang pada 3 September 2025 dalam usia 90 tahun, meninggalkan warisan yang tak ternilai: Perpustakaan Medayu Agung Surabaya.
Sejak kecil Pak Wie menyukai membaca dan mengoleksi kliping. Hobinya ini kian berkembang setelah ia terjun ke dunia jurnalistik. Ia bekerja di harian Trompet Masjarakat, yang kala itu menjadi corong suara rakyat kecil. Namun badai politik 1965 mengubah segalanya. Tanpa pernah diadili, ia ditangkap, dipenjara, dan akhirnya dibuang ke Pulau Buru.
Delapan tahun hidup dalam penjara tidak membuatnya menyerah. Ia justru menyebut masa itu sebagai “akademi kehidupan.” Bersama sesama tahanan, ia belajar bahasa, berdiskusi dan menyusun pengetauan. Dari sinilah ia bersua dengan Pramoedya Ananta Toer, membantu menjaga naskah Tetralogi Buru yang kelak mendunia.
Bebas pada 1978, jalan hidupnya masih penuh batu sandungan. KTP-ET (eks tapol) menutup pintu pekerjaan dan akses perbankan. Namun, alih-alih menyerah, ia bangkit lewat usaha toko buku di Surabaya. Dari sanalah koleksi buku dan dokumen sejarah sedikit demi sedikit terkumpul kembali.
Pada 2001, lahirlah Perpustakaan Medayu Agung, rumah yang menampung ribuan koleksi berharga. Dari arsip pers hingga benda antik, semua ia jaga dengan sepenuh hati. Tawaran uang besar dari luar negeri untuk membeli koleksi ia tolak, karena baginya, sejarah Indonesia harus tetap berada di tanah air.
Kini, Perpustakaan Medayu Agung menjadi ruang belajar penting bagi generasi muda. Kisah perjalanan Pak Wie dari penjara hingga perpustakaan adalah bukti bahwa sejarah bisa bertahan berkat keteguhan satu jiwa.
Editor : Ali Topan