JATIMKINI.COM, Di sebuah gang di Kelurahan Nginden Jangkungan, Surabaya, bendera merah putih masih berkibar sisa perayaan Agustus. Namun, ada yang berbeda tahun ini. Warga RT 06 RW 04 tak hanya larut dalam lomba tujuhbelasan, tapi juga melangkah ke dunia yang selama ini terasa jauh: pasar modal.
Bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI) Jawa Timur, dan PT Bahana Sekuritas, kampung ini diresmikan sebagai Kampung Literasi Keuangan atau yang juga disebut “Kampung Investor Saham.”
Inisiatif sederhana dari warga setempat menjelma menjadi gerakan simbolis: bahwa investasi bukan lagi monopoli orang-orang kota besar atau kalangan elite.
“Banyak masyarakat jadi korban penipuan, mulai PNS, guru, sampai petani. Karena itu, warga harus lebih cerdas. Terapkan 2L: legal dan logis sebelum berinvestasi,” ujar Milado Pani, Pengawas Divisi Pengawasan LJK 4 OJK Jawa Timur, dalam keterangannya.
Pesan itu sederhana, tapi tajam. Edukasi keuangan masih jadi tantangan besar, bahkan di tengah gencarnya kampanye inklusi keuangan nasional. Data OJK mencatat, masih banyak masyarakat yang belum bisa membedakan mana produk investasi resmi dan mana jebakan berkedok cepat kaya.
Bagi BEI, langkah warga Nginden Jangkungan patut diapresiasi. Kepala Wilayah Jawa Timur BEI, Cita Mellisa, menyebut kampung ini bisa menjadi contoh.
“Warga bisa belajar bersama-sama menjadi investor, sekaligus mendapatkan manfaat dari keberadaan pasar modal Indonesia,” ujarnya.
Ia menambahkan, warga akan didampingi Bahana Sekuritas dalam membuka rekening saham hingga mendapatkan rekomendasi investasi.
Bagi warga, pengalaman ini tak kalah berharga. Ketua RT 06 RW 04, Agus Tricahyo Kuncoro, mengaku sebagian besar masih asing dengan dunia saham. “Terus terang kami masih bingung, bentuk saham itu seperti apa. Tapi kami senang sekali kampung kami dilibatkan,” katanya.
Peresmian Kampung Literasi Keuangan berlangsung meriah. Ada senam pagi, jalan sehat, hingga pembagian doorprize.
Sekilas, acara ini mirip hajatan kampung biasa. Namun di balik tenda sederhana dan kursi plastik, ada semangat baru: membangun masa depan dengan pengetahuan finansial.
Warga yang tadinya hanya tahu soal arisan atau tabungan sederhana kini mulai belajar saham, instrumen investasi, hingga cara mengelola risiko.
Kampung kecil ini seolah ingin mengirim pesan: literasi keuangan tak harus lahir dari ruang seminar berbayar atau hotel berbintang. Ia bisa tumbuh dari gang sempit, di antara warga yang ingin lebih mandiri secara finansial. Dan mungkin, Nginden Jangkungan hanya permulaan.
Editor : Rochman Arief