JATIMKINI.COM, Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Jawa Timur mencatat inovasi transaksi digital melalui sistem pembayaran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) berhasil menjadi fondasi digital bagi sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Jatim.
Kepala BI Jatim, Ibrahim mengatakan BI sendiri telah menyiapkan isu kebijakan untuk mendorong transaksi non tunai. Di antaranya bagaimana menyediakan alternatif cara bayar yang mudah dan murah bagi masyarakat maupun UMKM, bagaimana merespon arus inovasi digitalisasi dengan tetap memitigasi fragmentasi industri, mempersiapkan kekuatan SP domestik untuk mendukung cross border TRX dalam kerangkan inisiatif regional payment connectivity.
“Selain itu juga bagaimana kita menyediakan infrastruktur publik yang mampu menyerap arus digitaliasi. Sehingga BI terus melakukan perluasan inovasi QRIS, corss border payment dalam kerangka RPC, dan perluasan fitur BI fast,” ujarnya dalam Media Gathering BI Jatim di Malang, Jumat (19/7/2025).
Adapun data BI hingga Maret 2025, penggunaan QRIS oleh sektor UMKM mendominasi dengan porsi 95ri 38,1 juta merchant. Lebih rinci, untuk usaha skala mikro sebanyak 57,52%, usaha kecil 29,59%, usaha menengah 5,89n usaha skala besar sebanyak 3,37%.
Sedangkan jumlah pengguna QRIS mencapai 56,28 juta. Baik merchant maupun pengguna QRIS ini bahkan telah mengalahkan jumlah penyebaran mesin EDC yang hanya mencapai 2,3 juta merchant yang kebanyakan adalah usaha skala besar.
Deputi Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Kpw Jawa Timur, Himawan Kusprianto
Deputi Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Kpw Jawa Timur, Himawan Kusprianto mengatakan perkembangan QRIS sangat akseleratif sejak pandemi Covid-19. Partisipasi ekonomi dari Gen Z dan penetrasi mobile phone yang makin masif juga sangat mempengaruhi.
“Gen milenial dan Z telah menjadi pelaku utama ekonomi dengan porsi masing-masing 27,94% gen Z, dan milenial 25,87%. Sedangkan gen Alpha 10,88%, gen X 21,88%, dan baby boomer 11,56%,” paparnya.
Ia menjelaskan, disrupsi terbesar penggunaan QRIS di front end adalah meluasnya preferensi NFC secara global. Secara globalsepanjang 2023 - 2024 nilai transaksi tumbuh 411,7% terutama didorong wilayah Asia dan Australia termasuk Indonesia.
“Standar QRIS sebagai satu bahasa dapat diintegrasikan dengan teknologi NFC diharapkan dapat menyediakan oreferensi masyarakat yang membutuhkan cara bayar secara contacless dengan value propostion yang lebih baik dari NFC eksisting serta tetap menjamin pemprosesan transaksi domestik,” imbuhnya.
Himawan menambahkan, penggunaan QRIS juga cukup masif di sektor transportasi. Sejumlah daerah terus mempersiapkan QRIS TAP di berbagai moda. Adapun wilayah yang telah mengimplementasikan QRIS untuk transportasi yakni Pulau Jawa seperti DI Yogyakarta melalui TranJogja, Trans Bnyumas di Purwokerto, Surakarta dan Jatim untuk Teman Bus, serta Jakarta oleh Damri melalui MRT Jakarta dan TransJakarta.
“Saat ini yang dalam tahap pengembangan di Pulau Sumatera dengan launching terdekat pada 16 - 17 Agustus mendatang di Medan. Dan lainnya provinsi lain dalam tahap pengembangan ada Riau, Sulteng, Bali. Oleh Damri di Sumsel, Jabar dan Surabaya. Untuk Laimantan dan Papua akan menjadi target pengembangan selanjutnya,” imbuhnya.
Editor : Peni Widarti