BRIN Dorong Riset Berdampak dari Perguruan Tinggi untuk Perkuat Ekonomi Nasional

Reporter : Rochman Arief
Kepala BRIN, Arief Satria (kanan) bersama Rektor Umsura, Mundakir fokus mendorong riset berdampak. (Foto: Rochman Arief/jatimkini.com)

JATIMKINI.COM, Riset berdampak menjadi fokus utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam memperkuat daya saing ekonomi Indonesia. BRIN mendorong perguruan tinggi produktif menghasilkan publikasi ilmiah.

Kepala BRIN, Arief Satria mengingatkan agar kampus melahirkan inovasi yang dapat dihilirisasi dan dimanfaatkan industri maupun masyarakat. Sebab, kampus memiliki peran strategis sebagai motor penggerak inovasi nasional.

Baca juga: 15 Mahasiswa Umsura Raih Double Degree di Taiwan, Langsung Dibidik Perusahaan Global

Hasil riset yang berhasil diterapkan di dunia usaha akan menciptakan nilai tambah, meningkatkan produktivitas, hingga mendorong pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita masyarakat.

“Saya harapkan perguruan tinggi tidak berhenti menghasilkan publikasi ilmiah. Kampus harus mampu menghadirkan inovasi yang berdampak pada industri dan masyarakat," ujarnya usai menghadiri UMSura Forum di At-Tauhid Tower, Universitas Muhammadiyah Surabaya, Sabtu (4/7/2026).

Arief mengakui Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam membangun riset berdampak, terutama menjembatani hasil penelitian di laboratorium dengan kebutuhan industri. 

Tidak sedikit hasil penelitian yang berhenti pada tahap akademik dan belum berkembang menjadi produk, teknologi, maupun model bisnis yang siap dimanfaatkan dunia usaha.

Karena itu, BRIN terus mendorong lahirnya kolaborasi yang lebih kuat antara perguruan tinggi, pemerintah, industry yan di dalamnya terdapat pelaku usaha, agar proses hilirisasi inovasi berjalan lebih cepat.

“Inilah pentingnya kolaborasi, semua pihak harus duduk bersama untuk menguatkan kolaborasi,” tegasnya.

Meski demikian, Arief melihat perkembangan positif dari sisi inovasi nasional. Berdasarkan data BRIN, jumlah permohonan paten di Indonesia terus meningkat dalam lima tahun terakhir.

Pada 2020, permohonan paten domestik tercatat sebanyak 10.846. Jumlah tersebut meningkat menjadi 15.068 pada 2023 dan kembali naik menjadi 15.815 pada 2024.

Baca juga: Nilai UTBK Bisa Jadi Tiket Masuk FK dan FKG Umsura, Syaratnya Mudah!

Namun, capaian tersebut masih tertinggal dibandingkan negara-negara maju. China, misalnya, telah mencatatkan 1.796.738 permohonan paten. Amerika Serikat mencapai 503.271 paten, disusul Jepang sebanyak 420.991, Korea Selatan 296.037, dan Jerman 133.784 permohonan.

Untuk mempercepat lahirnya riset berdampak, BRIN menyiapkan berbagai skema pendanaan yang dapat dimanfaatkan perguruan tinggi. Mulai dari RIIM, Program Riset Inovasi Strategis (PRIS), Matching Fund RIIM Startup, program alih teknologi, hingga hilirisasi inovasi.

Menurut Arief, seluruh program tersebut dirancang agar hasil penelitian mampu memberikan solusi nyata bagi berbagai sektor strategis, seperti pangan, energi, kesehatan, industri, hingga ketahanan sosial.

Pada kesempatan yang sama, Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya, Prof. Mundakir, menegaskan penguatan ekosistem riset menjadi salah satu prioritas utama kampus.

Menurutnya, berbagai indikator menunjukkan kapasitas riset Umsura terus meningkat, baik dari sisi hibah penelitian maupun program pengabdian kepada masyarakat.

Baca juga: Mundakir Resmi Jadi Guru Besar Umsura, Soroti Layan Kesehatan Holistik

“Kami telah mencatat peningkatan hibah penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga pendanaan riset dari berbagai skema kompetitif nasional,” ujarnya.

Sepanjang periode 2025–2026, jumlah proposal program kreativitas mahasiswa (PKM) yang memperoleh pendanaan juga meningkat. 

Hibah penelitian bertambah dari 56 menjadi 66 judul. Secara keseluruhan, hibah penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan PKM yang diraih UMSurabaya mencapai 248 judul pada 2025 dan 111 judul pada 2026 sesuai periode pendanaan yang sedang berjalan.

Melalui penguatan kolaborasi dan dukungan pendanaan, BRIN berharap semakin banyak riset berdampak yang lahir dari perguruan tinggi. 

Editor : Rochman Arief

Ekonomi
Berita Populer
Berita Terbaru