Ratapan Kelas Menengah

Reporter : Penulis Lepas
Foto : Istimewa

Aku duduk di kursi plastik warung tegal
menghitung nasi sepiring, tempe goreng sepotong
dan segelas teh panas yang sudah diaduk empat kali
supaya rasa manisnya merata seperti janji para politikus 

Ada cicilan rumah yang terus menagih
padahal rumah itu hanya jadi tontonan tetangga
karena aku berangkat pagi pulang malam
cuma bisa memandangnya dari luar, seperti memandang layar televisi "Apakah ini hidup?"
tanyaku pada dompet yang semakin kurus

Baca juga: Moneter Yang Bisu dan Fiskal Yang Bimbang: Esai Tentang Jalan Berbatu Ekonomi Indonesia


"Atau hanya sekadar tidak mati?" 

Anakku minta seragam baru
istriku mengganti beras dengan jagung
ibuku berhenti berobat ke puskesmas
katanya, "Biar Tuhan yang memulihkan

Di minimarket, ibu-ibu saling berpandangan
lalu diam-diam menyembunyikan telur di keranjang
satpam melihat, tapi ikut-ikut diam
karena perutnya juga ikut berbicara 

Di stasiun kereta, karyawan berdasi tidur berdiri
mimpinya jatuh terus ke dalam lubang KPR
Bangun-bangun, kereta sudah lewat
seperti masa mudanya 

Baca juga: Berhala Ekonomi Makro dan Paradigma 'Otomatis' Bagi Sektor Riil ‎

Wahai para ekonom dengan grafik melambung
coba tukar diplomasimu dengan segenggam beras
rasakan bagaimana rasanya bertahan
padahal berhenti bernapas pun kadang terasa lebih menguntungkan 

Maka kubilang, ini bukan hidup
ini puisi yang gagal mencari rima
ini lagu yang putus di tengah nada
ini roti yang sudah berjamur
tapi masih juga dimakan 

Karena memang ada hidup
tapi rasanya tanpa kehidupan.

Baca juga: Dasar Hukum Yang Dilanggar : Kontradiksi Yuridis Dalam Raperda

Penulis : Hadi Prastyo  ( Pengamat Ekonomi )

Kanal Kolom adalah halaman khusus layanan bagi masyarakat umum, politikus, pengamat, mahasiswa, pengusaha, organisasi serta lainnya  untuk menulis berita lepas.

Redaksi Jatimkini.com tidak bertanggungjawab atas tulisan dan foto

Editor : Redaksi

Ekonomi
Berita Populer
Berita Terbaru