Mudah Hakimi Konflik Artis, Pakar Komunikasi Ingatkan Bahaya Trial by Social Netizen

Reporter : Baehaqi Almuthoif

JATIMKINI.COM, Ramainya konflik selebritas di media sosial membuat masyarakat semakin mudah memberikan penilaian sepihak. Hanya lewat potongan video, unggahan ulang, atau narasi viral, warganet kerap langsung menentukan siapa yang dianggap benar maupun salah. 

Pengamat komunikasi Agustina Widyawati menilai fenomena tersebut menjadi gambaran kuatnya budaya 'instant judgment' di era digital. 

Baca juga: Pemerintah Batasi Akun Media Sosial Anak, Pakar Umsura: Regulasi Algoritma Lebih Penting

“Padahal kita sering cuma lihat sebagian kecil dari sebuah persoalan. Apalagi kalau kasusnya menyangkut figur publik, emosi publik biasanya jauh lebih kuat dibanding keinginan untuk mencari fakta secara utuh,” ujarnya. 

Ia mencontohkan penghakiman publik di media sosial terkait polemik lama antara musisi Ahmad Dhani dan Maia Estianty. Perhatian publik tertuju pada dokumen penghentian penyidikan atau SP3 atas laporan dugaan KDRT yang pernah dilayangkan Maia.

Namun, kepolisian telah menghentikan perkara lantaran belum ditemukan bukti yang cukup untuk melanjutkan proses hukum. Widya, sapaannya, menilai situasi tersebut memperlihatkan bagaimana persepsi publik bisa berbeda dengan fakta hukum yang ada.

Akademisi dari Universitas Sunan Gresik itu mencontohkan teori agenda setting yang dikembangkan Maxwell McCombs dan Donald Shaw. Dalam teori tersebut, media memiliki kekuatan besar dalam membentuk isu yang dianggap penting oleh masyarakat.

Baca juga: Pakar Komunikasi UNAIR Dorong Literasi Digital Cegah Tekanan Psikososial di Media Sosial

“Teori ini menjelaskan bahwa media tidak selalu menentukan apa yang harus dipikirkan, tetapi media sangat kuat dalam menentukan isu apa yang dianggap penting oleh publik," terangnya.

Jadi ketika media dan media sosial terus menerus menyoroti konflik Ahmad Dhani dan Maia Estianty, publik akhirnya ikut fokus pada sisi-sisi tertentu yang paling sering dimunculkan.

Widya melanjutkan, media sosial juga memperkuat confirmation bias atau kecenderungan seseorang mempercayai informasi yang sesuai dengan pandangan awalnya. 

Baca juga: Anak Terpapar Ideologi Ekstrem, Pakar Umsura Soroti Bahaya Neo-Nazi di Media Sosial

“Akibatnya, konten singkat yang emosional lebih cepat memengaruhi opini dibanding penjelasan hukum yang detail dan kompleks,” tegas mantan jurnalis media cetak ini.

Ia menyebut fenomena tersebut dikenal sebagai trial by social media, yakni penghakiman yang terjadi di ruang digital sebelum adanya keputusan hukum tetap. Menurutnya, konflik rumah tangga yang melibatkan figur publik sangat mudah menarik perhatian karena memiliki unsur emosional yang tinggi.

“Maia waktu itu mendapat simpati karena publik melihat narasi tentang perjuangan dan kesan rasa sakit yang dialaminya. Sementara Ahmad Dhani banyak mendapat stigma negatif karena citra yang muncul di publik cenderung keras dan kontroversial,” ujarnya memungkasi.

Editor : Rochman Arief

Ekonomi
Berita Populer
Berita Terbaru