JATIMKINI.COM, Peristiwa bunuh diri dikalangan remaja dan pelajar mengejutkan publik, tercatat tiga kali terjadi dan waktunya berdekatan. Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat beberapa mahasiswa mengakhiri hidupnya. Demak dikejutkan aksi nekat siswa SD gantung diri, di kota Bandung berduka atas tewasnya seorang siswa yang diduga akibat putus hubungan dengan pacarnya.
Pentingnya kesehatan mental generasi muda, era kehidupan serba digital mendorong para remaja hampir dipastikan kurangnya komunikasi. Berbaur tanpa sekat hanya terjadi di dunia digital tanpa ada bertukar pendapat. Sehingga memutuskan suatu dengan cepat tanpa ada pertimbangan tertentu.
“Kasus-kasus itu jadi tamparan keras bagi kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental generasi muda, terutama di era kehidupan nyata dan digital, berbaur tanpa sekat,” ujar Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Jawa Timur sekaligus Dosen Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Suko Widodo Drs MSi
Ia memandang bahwa peristiwa tersebut adalah cerminan dari tekanan psikososial yang makin kompleks. Menurutnya anak – anak saat ini hidup dalam dua ruang sekaligus.
“Anak-anak hari ini hidup dalam dua ruang sekaligus ruang fisik dan ruang digital. Tekanan di ruang digital bisa berlangsung tanpa jeda, 24 jam, dan sering tidak disadari orang tua maupun guru,” jelasnya.
Dari sudut pandang komunikasi, Suko menerangkan bahwa Teori Kultivasi oleh George Gerbner mampu untuk menganalisis fenomena ini. Paparan media sosial secara berulang, membentuk persepsi remaja tentang bagaimana realitas sosial seharusnya. Puncaknya, konten-konten yang menampilkan kebahagiaan dan popularitas dinilai jadi standar umum kehidupan.
Suko menjelaskan, ketika pesan dari media bercampur dengan pengalaman pribadi yang rapuh, hal itu dapat menyebabkan resonansi emosi dan memperkuat perasaan negatif.
“Media sosial bukan hanya ruang informasi, tapi ruang amplifikasi emosi. Remaja yang sedang mengalami putus hubungan atau tekanan akademik akan lebih rentan terhadap pesan yang sesuai dengan kondisi emosionalnya,”ungkapnya.
Sementara algoritma media sosial dirancang untuk menampilkan konten yang selaras dengan preferensi dan aktivitas pengguna. Maka, Suko menekankan pentingnya literasi digital yang tak hanya berhenti pada aspek teknis, tetapi juga menyentuh kesadaran emosional.
Perlu keterlibatan seluruh pihak mulai dari sekolah dan keluarga untuk memiliki mekanisme deteksi dini terhadap perubahan perilaku siswa. Selain itu, Suko juga berpesan agar media massa bertanggung jawab dalam pemberitaan kasus bunuh diri dengan menghindari sensasionalisme dan selalu menyertakan informasi tentang layanan konseling.
“Remaja bisa terhubung dengan ratusan orang secara daring setiap hari, tetapi tetap merasa sendirian secara emosional. Kita harus memastikan mereka tidak hanya terhubung, tetapi juga didengar,”tutur Suko.
Editor : Ali Topan