JATIMKINI.COM, Produsen tepung terigu Bogasari mencatat adanya tren kenaikan konsumsi tepung di awal 2026 sebesar 3% seiring dengan datangnya momen Ramadan dan Idulfitri tahun ini.
Vice President Marketing Bogasari Wilayah Indonesia Timur, Yulius Ronadi mengatakan, di tengah kondisi ekonomi yang kurang stabil, penjualan terigu di wilayah kerjanya masih cukup stabil jika dibandingkan tahun lalu.
Baca juga: Bogasari Pabrik Tangerang Tambah Kapasitas Produksi Menjadi 500 MT Ton Per Hari
"Kalau jalan 2 bulan sejak Januari - Februari kita sudah ada kenaikan rata-rata 3%. Namun secara khusus untuk tepung terigu dengan protein tinggi seperti Kunci Biru kemasan 1kg naiknya tinggi bisa 10% karena memang momen Ramadan banyak masyarakat membuat kue kering. Bukan hanya dari UMKM tapi masyarakat umum pun membuat kue," jelasnya di sela-sela pelatihan membuat cake di Bogasari Baking Center (BBC) Surabaya, Rabu (4/3/2026).
Selain itu, lanjutnya, banyak pabrikan biskuit juga sudah menyetok bahan tepung untuk persiapan momen Lebaran.
Secara kontribusi, segmen UMKM menyumbang 60% - 65ri penjualan tepung Bogasarim sedangkan industri sebesar 20% - 25%, sisanya dari segmen ritel.
"Secara market, di Indonesia Timur, market terbesar kita pasti masih di Jawa Tengah dan Jawa Timur, kontribusinya 70%. Sisanya tersebar di Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua," imbuhnya.
Baca juga: Implementasi Industri Hijau, Bogasari Flour Mills Operasikan PLTS Ke-2 di Pabrik Jakarta
Yulius menambahkan, keberadaan BBC Surabaya sendiri saat ini mampu berkontribusi dalam peningkatan penjualan tepung terigu. Sebab, BBC memiliki tujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang tepung bahkan menciptakan pengusaha-pengusaha baru di bidang kue dan mie. Dari skala mikro, akhirnya bisa semakin berkembang.
Melihat kondisi adanya perang global seperti Iran - Israel yang terjadi sekarang, kata Yulius Bogasari sejauh ini masih belum terlalu terdampak. Kalaupun ada dampak, lebih disebabkan oleh biaya logistik kapal dan biaya-biaya BBM.
"Seperti kita tahu, kalau selat Hormuz ditutup, itu dampaknya akan seperlima, karena 20% peredaran minyak dunia ada di sana. Itu pasti akan berdampak, karena kapal-kapal akan muter ongkosnya jadi lebih tinggi," katanya.
Baca juga: Wajib Fortifikasi Bantu Atasi Asupan Gizi Mikro di Indonesia
Yulius menjelaskan, komponen yang paling mempengaruhi harga terigu adalah adanya kenaikan biaya dari sisi transportasi akibat bahan bakar, serta jika terjadi stok panen gandum dunia yang sedang buruk.
"Harga terigu bisa naik itu karena komponen utama yakni harga gandum itu sendiri. Kalau supplay nya gak berimbang harga akan naik. Seperti di 2008 lalu, pernah di Australia ada kekeringan sehingga produksi gandumnya turun drastis, lalu faktor lain adalah kurs dolar AS. Karena pembayarannya semua pakai dolar," tutupnya.
Editor : Peni Widarti