JATIMKINI.COM, PT Pelindo Multi Terminal (SPMT) memperketat serangkaian prosedur mitigasi risiko menyusul peringatan cuaca ekstrem yang tengah berkembang di sejumlah wilayah Indonesia.
Langkah ini diambil setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi dua Bibit Siklon Tropis—97S dan 98S—yang berpotensi memicu peningkatan curah hujan serta gangguan operasional pelabuhan.
Baca juga: Arus Kargo Curah Cair Naik 4,8 Persen, Pelindo Multi Terminal Genjot Layanan
Gelagat perubahan cuaca semacam ini bukan hal baru bagi industri kepelabuhanan. Namun, bagi SPMT, kondisi atmosfer yang tak menentu berarti memperkuat kesiapan seluruh lini agar arus logistik tak tersendat.
Direktur Operasi Pelindo Multi Terminal, Arif Rusman Yulianto, menegaskan bahwa perusahaan kini mengaktifkan protokol mitigasi yang telah dirumuskan untuk menghadapi kondisi berisiko tinggi.
“SPMT memastikan setiap kegiatan bongkar muat dijalankan sesuai prosedur, memperketat penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), serta melakukan pemeriksaan teknis secara berkala pada seluruh peralatan dan fasilitas pelabuhan,” ujar Arif.
Baca juga: Pelindo Multi Terminal Fasilitasi Ekspor Perdana Jagung ke Vietnam
Ia juga meminta seluruh pihak yang berkegiatan di area pelabuhan untuk rutin memantau informasi cuaca ekstrem demi menekan potensi kecelakaan.
Mitigasi risiko tak hanya menyentuh aspek teknis. Subholding PT Pelabuhan Indonesia ini juga meningkatkan kesiapsiagaan tim tanggap darurat di seluruh unit kerja.
Pelatihan Emergency Response Plan, Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K), hingga simulasi penanganan kebakaran kembali digelar untuk memastikan respons cepat jika situasi memburuk. Semua langkah tersebut dijalankan sejalan dengan implementasi Sistem Manajemen K3 sebagaimana diatur dalam PP No. 50 Tahun 2012.
Baca juga: Pelindo Multi Terminal Resmi Layani Bongkar Muat Perdana di Pelabuhan Batang
“Apabila cuaca ekstrem mencapai tingkat yang membahayakan, operasional akan dihentikan sementara. Keselamatan petugas, mitra, dan pengguna jasa selalu menjadi prioritas,” kata Arif menegaskan.
Dalam konteks pelabuhan, yang menjadi simpul penting rantai pasok nasional, kesiapsiagaan ini menjadi barikade pertama untuk memastikan distribusi logistik tetap stabil. Operator non-petikemas ini berharap mitigasi yang diterapkan dapat menjaga operasional seluruh terminal berjalan aman, meski cuaca bergerak tak menentu.
Editor : Rochman Arief