Penguatan ekonomi dalam negeri harus didorong terutama sektor pariwisata dan UMKM guna mengantisipasi ancaman resesi global. Pasalnya kedua sektor itu menjadi andalan pertumbuhan sekaligus sektor pemulih ekonomi tercepat usai pandemi covid-19.
"Pengembangan UMKM dan pariwisata yang dibarengi dengan promosi terintegrasi akan memperkuat ekonomi 2023," tegas Ketua Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi (PPKE) Universitas Brawijaya (UB), Malang, Candra Fajri Ananda, Kamis (29/12).
Guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UB itu menjelaskan tentu harus dibarengi dengan perbaikan informasi pasar, infrastruktur dan kualitas produk. Menurut Fajri, peluang berkembangnya UMKM yang berkontribusi sekitar 60% pada Produk Domestik Bruto terbuka lebar setelah kian sempitnya mobilitas karena faktor lahan di perdesaan.
"Pemerintah harus terus mendorong penguatan dan fasilitasi termasuk edukasi untuk memberdayakan UMKM dan pariwisata," kata Fajri dalam talkshow Meneropong Ekonomi Indonesia 2023.
Ia mengungkapkan sentranya pariwisata di Jatim itu Malang Raya. Di Malang, lanjutnya, memiliki objek wisata yang komplit mulai gunung, laut, pertanian sampai objek wisata buatan. Namun, kebijakan pengembangan belum memiliki promosi yang terintegrasi antarpemda.
Bahkan sekaliber Gunung Bromo pun belum digarap optimal sebagai destinasi yang menyuguhkan kenyamanan sehingga memaksa orang bisa tinggal lebih lama.
Sementara itu, peneliti PPKE Universitas Brawijaya Joko Budi Santoso menyatakan potensi dan peran strategis UMKM yang sejalan dengan kebijakan secara tepat akan memperkuat mereka sebagai tulang punggung ekonomi.
Pemda kedepan harus mengoptimalkan coworking space menjadi model inkubator bisnis. Di Kota Malang memiliki Malang Creative Center yang bisa menjadi model nasional. Program Ojir Kota Malang membantu permodalan UMKM melalui skema kredit dengan bunga dibayar Baznas. Kedepan, standarisasi digital, perizinan dan kearifan lokal menjadi bagian penting yang harus dilakukan.
"Pariwisata itu lokomotif, maka UMKM itu gerbongnya," ujarnya.
Pengamat ekonomi pariwisata dan dosen Polinema Aang Afandi mengatakan tolok ukur kualitas pariwisata itu bukan saja menarik orang sekadar datang ke destinasi tapi juga belanja.
"Tren 2023 tentu semua orang ingin terlepas dari tekanan setelah pandemi yang cukup melelahkan. Karena itu, pariwisata harus dibenahi selain SDM juga infrastrukturnya," ucapnya.
Tantangan kedepan juga pengembangan ekowisata mengingat perdesaan dengan budaya lokalnya layak dikombinasikan sebagai pengungkit pertumbuhan ekonomi yang signifikan.
Karena itu peran kepala daerah sangat strategis dalam mengelaborasi dengan masyarakat lokal. Termasuk basis pelayanan dan sisi menarik destinasi sehingga memerlukan sentuhan nilai tambah selain meningkatkan kapasitas SDM. Tantangan selanjutnya sektor transportasi terutama soal kepastian tarif pesawat terbang imbas kenaikan harga avtur.
Editor : Redaksi