Mentan Pastikan Stok Beras Melimpah

jatimkini.com

Menteri Pertanian(Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) menyatakan selama tiga tahun terakhir Indonesia swasembada beras sehingga tidak berdasar bila ada yang menuding stok beras menipis.

"Kita negara tropis terbaik ditunjang dengan sistem ketahanan pangan menjadi model dunia," tegas SYL di Malang, Jumat (28/10) malam.

Pengakuan kekuatan sitem ketahanan pangan Indonesia itu dari Organisasi Pangan dan Pertanian dunia(FAO).

Menurut SYL, ketersediaan beras melimpah. Sesuai data BPS pada April 2022, stok sebanyak 10,15 juta ton. Stok sebanyak itu masih ditambah panen pada Mei-Oktober dan akan berlanjut sampai Desember.

Untuk itu, ia optimistis daya tahan pangan diharapkan sampai 2 tahun kedepan. Dengan stok beras yang melimpah setelah mencukupi kebutuhan dalam negeri, ekspor terbatas menjadi pilihan yang rasional. Dengan demikian impor tidak diperlukan karena stok beras melimpah di dalam negeri.

"Panen kita dua kali, puncak panen pertama 18 juta ton lebih. Panen kedua sekitar 13 juta ton lebih. Panen itu setara beras 32 juta ton sedangkan kebutuhan konsumsi kita 29 juta ton sampai 30 juta ton sehingga over stok kita cukup," ucapnya.

SYL mengungkapkan panen di Jatim pada periode September-Desember 1,15 juta ton, Jateng 1,1 juta ton, Jabar 1,5 juta ton, dan Sulawesi Selatan 1,16 juta ton. Stok beras yang dijual di pasar induk Cipinang pun sebanyak 43 ribu ton sesuai data Jumat (18/10) malam dari rata-rata 25 ribu ton per hari.

"Ketersediaan beras cukup dan akan ada panen lagi sehingga beras ada saat pembeli membutuhkan. Kalau ada yang bilang stok beras menipis, berarti dia harus berhadapan dengan saya," ujarnya.

Fakta itu membuktikan stok beras melimpah. Presiden Joko Widodo pun mengecek langsung ketersediaan beras tiap pekan dalam kondisi aman.

"Bila ada yang mengatakan stok beras menipis, tentu jangan percaya itu. Suruh ke Kementan, aku tunjukkan di mana tempatnya," tuturnya.

SYL menegaskan tidak ada penipisan beras. Dalam konteks ini, ada kemungkinan yang dimaksud agar Bulog menyerap panen petani lebih besar. Sebab, bila penyerapan Bulog sedikit akan berimbas pada terganggunya stabilitas di pasar.

Karena itu Bulog harus menambah penyerapan setidaknya 1,2 juta ton sampai 1,5 juta ton agar stok beras berputar ke pasar karena sampai Desember 2022 masih ada panen.

"Saat panen, Bulog harus segera menyerap gabah dan beras sebagai buffer stock," imbuhnya.

Para kepala daerah pun didorong melakukan buffer stock dengan membuat gudang-gudang pangan di daerahnya.

"Data kita cukup bagus, data di penggilingan banyak, data di rumah tangga ada," pungkasnya.

Sejauh ini, Kementan bekerja sama baik dengan Menteri Perdagangan, Bulog, Menteri BUMN dan Badan Ketahanan Pangan Nasional. Namun, dinamika pangan nasional harus diakui cukup banyak karena Indonesia negara kepulauan sehingga distribusi beras ke daerah membutuhkan biaya transportasi dan logistik. Sebab ada daerah-daerah yang jah dengan sentra produksi.

Karena itu, SYL menyatakan pengelolaan sistem ketahanan pangan nasional harus dimenejemen bersama dengan baik.

Editor : Redaksi

Ekonomi
Berita Populer
Berita Terbaru