Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, menggelar konferensi internasional mengulas gender dan pengembangan pertanian terkait krisis pangan global dan solusinya.
"Roh konferensi ini bagaimana interaksi manusia dan alam sekaligus meminimalisasi dampak lingkungan," tegas Chairman of International Conference on Agriculture and Food Sustainability (ICAFOSY) 2nd, Asihing Kustanti, Selasa (18/10).
Ia menjelaskan ada 52 judul makalah dari Amerika Serikat, Australia, Eropa dan Indonesia. Presentasi makalah itu memuat problematika dan solusi sesuai topik gender and agriculture developmen. Hasil seminar ini akan dipublikasikan di jurnal internasional.
Konferensi pertanian dan pangan berkelanjutan ini mengungkap fakta terkini dan solusinya untuk memperkuat ketahanan pangan di Indonesia dan global.
"Konferensi ini bukan saja murni sains yang mempelajari orang, akan tapi juga interaksi dengan sumber daya alam, keberlanjutan dan memberikan dampak minimal terhadap lingkungan," kata Asihing yang juga Ketua Komunitas Manajemen Hutan Indonesia UB.
Dalam konteks ini konferensi mengulas kondisi pascapandemi covid-19. Di dalamnya ada teknik-teknik mengoptimalkan peran gender dan meningkatkan kesejahteraan tanpa merusak lingkungan. Salah satu solusi, yakni perhutanan sosial dan pemberdayaan gender dalam pengembangan sektor pertanian, ekowisata dan meningkatkan kinerja kehutanan.
Sementara itu, guru besar Fakultas Pertanian UB Keppi Sukaesih menyatakan program pemerintah sudah banyak membantu dalam memperkuat ketahanan pangan. Namun, partisipasi perempuan perlu diperkuat melalui kewirausahaan sosial.
"Perempuan dalam mengembangkan usaha akan lebih kuat berkelompok," ujarnya.
Keppi menjelaskan ketahanan pangan kini baru sebatas menyelamatkan kebutuhan primer atau mendasar. Yang perlu dicermati, lanjutnya, soal kemerataan pangan.
"Kelompok miskin perlu diperhatikan, perempuan juga harus mendapatkan perhatian khusus. Bantuan agar mengarah pada penguatan yang berdampak pada peningkatan pendapatan," ucapnya.
Di sisi lain, penguatan sumber daya manusia menjadi yang utama selain menolong kelompok rentan secara berkelanjutan. Penguatan itu melalui pemberdayaan perempuan, kewirausahaan sosial dan meningkatkan jiwa sosial.
Editor : Redaksi