Museum Mpu Purwa, Kota Malang, Jawa Timur, memiliki 10 koleksi masterpiece satu-satunya di Indonesia dan dunia. Koleksi langka itu menjadi daya tarik tersendiri untuk meningkatkan edukasi, literasi dan melestarikan benda purbakala warisan budaya bangsa.
"Koleksi masterpiece ini tidak ada di mana-mana, hanya ada di Museum Mpu Purwa karena masterpiece itu ori, asli bukan replika, bagian asli dari sejarah," tegas Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Malang, Dr Dian Kuntari, SSTP MSi, disela seminar, Kamis (4/5/2023).
Adapun 10 koleksi masterpice Museum Mpu Purwa berupa prasati dan arca, yaitu Prasasti Kanuruhan, Prasasti Muncang, Prasasti Dinoyo II, Makara, Arca Aksobya, Arca Brahma, Arca Agastya, Arca Ganesha Musika, Arca Avalokitesvara dan Arca Singha Stambha.
Dian menyatakan masyarakat khususnya Kota Malang harus bangga memiliki peninggalan leluhur yang kini menjadi masterpiece. Koleksi itu menceritakan Kota Malang masa klasik atau kerajaan Hindu Buddha sebagai bahan edukasi dan literasi kepada masyarakat dan generasi muda.
"Sebagian besar museum di Indonesia memiliki replika, belum tentu memiliki koleksi asli atau biasa disebut masterpiece," katanya.
Dalam seminar kali ini ia mengundang 200 peserta dari kalangan guru SMA/SMK Negeri-Swasta, SMP Negeri, perguruan tinggi, pengelola museum dan pemerhati sejarah budaya di Kota Malang. Seminar dibagi dua sesi karena tingginya animo masyarakat, yakni masing-masing sesi 100 peserta.
Karena keterbatasan tempat, kami bagi dua sesi dalam sehari, masing-masing 100 peserta per sesi. Dan, ini sudah kali kedua, lantaran tahun sebelumnya animo masyarakat cukup tinggi," tuturnya.
Dia berharap, seminar yang dihadiri para guru bisa meluaskan edukasi kepada siswa dan masyarakat sehingga imbasnya kian meningkatkan kecintaan terhadap museum dan budaya bangsa.
"Upaya edukasi, literasi hingga mengajak dan melihat langsung koleksi-koleksi di Museum Mpu Purwa," ujarnya.
Pada kesempatan itu, pihak Museum Mpu Purwa menggandeng Pengamat Sejarah dan Budaya Malang, Rakai Hino Galeswangi. Ia mengupas tiga koleksi masterpiece, yakni Prasasti Kanuruhan, Arca Aksobya dan Arca Agastya. Peserta dibekali buku saku karya Rakai Hino Galeswangi yang juga menjabat Sekretaris Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang.
Ia menjelaskan Prasasti Kanuruhan berada di balik sandaran arca Ganesha menceritakan pembuatan taman di Watak Kanuruhan oleh Bulul. Prasasti berbahasa Jawa Kuna terdapat angka tahun 856 Saka. Rakryan Kanuruhan Dyah Mungpang memberikan hadiah sebagian tanah di Wanua/desa yang berjasa pada keamanan, patriotisme dan cinta lingkungan. Bulul membuat telaga lengkap dengan taman bunga yang ditindaklanjuti oleh penguasa Kanuruhan dengan anugerah tanah perdikan.
Sedangkan arca Aksobya menggambarkan sosok Buddha menelungkupkan tangan kanan dan kiri yang menengadah ke atas dengan posisi kaki bersila atau sikap mudra. Arca itu ditemukan di percandian Singosari. Arca merupakan perwujudan Raja Kertanegara, yakni raja terakhir Kerajaan Singhasari.
Sementara itu, arca Agastya menjadi koleksi langka karena bentuknya yang ramping. Hal itu menunjukkan seni pahat yang dapat dihubungkan dengan kesenian gaya Gupta. Gaya seni pahat itu masuk Nusantara secara periodik masa Mataram Kuna abad 8-9 Masehi. Arca yang disebut Siwa Guru atau Siwa Maha Guru ini berbeda dengan 10 koleksi arca-arca lainnya di Museum Mpu Purwa. Yang membuat berbeda ialah gaya atau langgam, pahatan halus, bentuk gelung rambut yang khas dan kain yang dikenakannya. Sebab, ciri umum arca serupa digambarkan perwujudan orang tua berkumis dan berjenggot, berperut gendut dengan bentuk Mahkota Jatamakuta. (R2)
Editor : Redaksi