JATIMKINI.COM, Kampung Edukasi Sampah di RT 23 RW 07, Kelurahan Sekardangan, Sidoarjo, menjadi ruang belajar bagi masyarakat untuk mengenal pengelolaan sampah dari sumbernya.
Kawasan yang konsisten mengembangkan praktik pilah dan olah sampah selama hampir 10 tahun ini menerima sekitar 3.000 pengunjung setiap tahun.
Praktik pengelolaan sampah berbasis masyarakat tersebut mendapat perhatian saat Kampung Edukasi Sampah menjadi salah satu lokasi verifikasi lapangan Program Adipura 2026 di Kabupaten Sidoarjo, Sabtu (17/10/2026).
Tim Verifikator Adipura meninjau sejumlah titik pemilahan dan pengolahan sampah. Dalam kegiatan tersebut, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Sidoarjo, Kelurahan Sekardangan, pengurus RW, dan kader lingkungan turut mendampingi proses verifikasi.
Kader Lingkungan Kampung Edukasi Sampah, Hariyanto, menjelaskan bahwa kegiatan edukasi menjadi bagian dari upaya menyebarluaskan kebiasaan memilah dan mengolah sampah kepada masyarakat.
Selama hampir satu dekade, warga mengembangkan pengelolaan sampah berdasarkan jenisnya. Sampah organik diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomis disalurkan melalui Bank Sampah Telulikur.
“Selama hampir 10 tahun, kami terus membangun kebiasaan memilah sampah dari rumah tangga. Sampah organik kami olah melalui komposter Takakura, komposter aerob, dan berbagai metode lainnya. Sementara sampah anorganik yang bernilai ekonomis kami salurkan ke bank sampah,” jelas Hariyanto.
Berbagai metode tersebut menjadi contoh praktik yang dapat dipelajari pengunjung. Warga tidak hanya memperkenalkan pemilahan sampah, tetapi juga menunjukkan cara mengolah sampah organik menggunakan komposter Takakura dan komposter aerob.
Pengelolaan lingkungan turut didukung pemanfaatan lubang biopori dan sumur resapan. Sementara itu, Bank Sampah Telulikur menjadi tempat penyetoran sampah anorganik, seperti botol plastik dan kardus, yang masih memiliki nilai ekonomis.
Kampung Edukasi Sampah juga memiliki fasilitas pendukung berupa Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), panel surya, mesin pencacah plastik, serta mesin pencacah daun dan ranting untuk membantu proses pembuatan kompos.
Keberadaan fasilitas tersebut memperkenalkan berbagai pendekatan pengelolaan lingkungan dalam satu kawasan. Pengunjung dapat melihat bagaimana perubahan perilaku warga, teknologi tepat guna, dan pengelolaan fasilitas saling mendukung dalam upaya mengurangi persoalan sampah.
Kader Lingkungan Kampung Edukasi Sampah, Retno Mulyo, turut menjelaskan inovasi penataan lingkungan dan pengelolaan Bank Sampah Telulikur kepada tim verifikator, termasuk penerapan administrasi digital untuk memudahkan pencatatan setoran nasabah.
Selain menjadi sarana pembelajaran, kegiatan pengelolaan sampah di kawasan tersebut mengandalkan partisipasi masyarakat. Warga memilah sampah sejak dari rumah, kemudian menyalurkan material yang masih bernilai ekonomis melalui bank sampah.
Di kesempatan yang sama, Ketua RT 23 RW 07 Sekardangan, Andi Hariyadi, mengatakan keterlibatan warga menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan kegiatan lingkungan.
“Kami bersama warga bahu-membahu menjaga kebersihan lingkungan sekaligus mengoptimalkan operasional Bank Sampah Telulikur yang digerakkan oleh para kader,” ujar Andi.
Melalui edukasi yang berlangsung secara berkelanjutan, Kampung Edukasi Sampah berupaya mendorong pengunjung menerapkan kebiasaan serupa di lingkungan masing-masing. Pengalaman yang dibagikan diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan selama kunjungan, tetapi berlanjut menjadi praktik pengelolaan sampah di rumah.
Verifikasi Adipura 2026 menjadi salah satu momentum untuk memperlihatkan praktik pengelolaan lingkungan yang telah dikembangkan warga. Namun, nilai utama Kampung Edukasi Sampah terletak pada upaya menjadikan pengelolaan sampah sebagai kebiasaan bersama sekaligus membagikan pengalaman tersebut kepada masyarakat yang lebih luas.
Editor : Rochman Arief