JATIMKINI.COM, Kinerja operasional PT Merdeka Copper Gold Tbk sepanjang tahun buku 2025 menunjukkan penguatan yang signifikan, ditopang ekspansi produksi dan percepatan proyek strategis di berbagai lini bisnis.
Emiten tambang berkode saham MDKA ini mencatatkan pendapatan sebesar USD1,895 miliar dengan EBITDA mencapai USD373 juta, mencerminkan peningkatan skala operasi di tengah dinamika pasar komoditas.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh kenaikan harga jual rata-rata emas serta lonjakan produksi nikel. Diversifikasi portofolio menjadi penopang utama, dengan kontribusi dari segmen emas, nikel, hingga tembaga yang terus berkembang.
Dari segmen emas, Tambang Tujuh Bukit masih menjadi tulang punggung dengan produksi mencapai 103.156 ounce. Sementara itu, entitas anak PT Merdeka Gold Resources Tbk mencatat kemajuan signifikan melalui pengembangan Tambang Emas Pani.
Proyek tersebut telah memasuki fase produksi awal pada Februari 2026 dan mulai mencatatkan penjualan perdana ke PT Aneka Tambang Tbk pada Maret 2026. Hal ini menandai awal monetisasi aset baru Perseroan.
Ke depan, kontribusi segmen emas diproyeksikan meningkat seiring target produksi dari Tambang Pani sebesar 100.000–115.000 ounce pada 2026, ditambah produksi berkelanjutan dari Tujuh Bukit di kisaran 80.000–90.000 ounce.
Di segmen nikel, kinerja operasional juga menunjukkan tren positif melalui anak usaha PT Merdeka Battery Materials Tbk. Produksi tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) meningkat dengan capaian sekitar 7 juta wet metric ton (wmt) saprolit dan 14,7 juta wmt limonit sepanjang 2025. Peningkatan ini memperkuat pasokan bahan baku bagi fasilitas hilirisasi yang tengah dikembangkan.
Proyek hilirisasi menjadi fokus utama, termasuk pengembangan fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) oleh PT Sulawesi Nickel Cobalt yang ditargetkan mulai commissioning pertengahan 2026. Selain itu, proyek Acid Iron Metal (AIM) yang dioperasikan PT Merdeka Tsingshan Indonesia juga berada pada jalur yang tepat menuju produksi penuh.
Untuk 2026, MBMA menargetkan peningkatan produksi bijih saprolit menjadi 8–10 juta wmt dan limonit sebesar 20–25 juta wmt, disertai efisiensi lanjutan pada fasilitas Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF).
Sementara itu, kontribusi segmen tembaga tetap stabil melalui Tambang Wetar yang menghasilkan arus kas konsisten. Di sisi lain, Proyek Tembaga Tujuh Bukit terus menunjukkan progres yang memperkuat prospek jangka panjang sebagai salah satu proyek tembaga-emas berskala besar yang belum dikembangkan secara global.
Presiden Direktur Merdeka, Albert Saputro, menyatakan bahwa sepanjang 2025 pihaknya fokus memperkuat fondasi bisnis melalui peningkatan kapasitas operasi dan pengembangan proyek strategis.
“Kemajuan di seluruh lini usaha serta kontribusi entitas anak menjadi modal penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ke depan,” ujar Albert, Selasa, 31 Maret 2026.
Selain aspek operasional, perusahaan juga terus memperkuat implementasi prinsip environmental, social, and governance (ESG), termasuk peningkatan keselamatan kerja, efisiensi energi, serta pengelolaan lingkungan dan pengembangan masyarakat.
Dengan fondasi operasional yang semakin solid, diversifikasi bisnis yang terjaga, serta sejumlah proyek strategis yang mulai beroperasi pada 2026, kinerja operasional Merdeka Copper Gold diproyeksikan tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan produksi dan arus kas dalam jangka menengah.
Editor : Rochman Arief