JATIMKINI.COM, Ada yang menarik saat Wisuda ke-97 di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jatim (UPNVJT) di Surabaya Sabtu kemarin. Dimana salah satu wisudawan terdapat predikat Cumlaude atau pujian. Adalah Kepala Biro Perum LKBN ANTARA Jawa Timur Abdul Malik Ibrahim yang dianugerahi sebagai wisudawan Cumlaude.
Malik sapaannya, dirinya menyelesaikan studi magisternya dalam kurun waktu 2,5 tahun dengan mengangkat tesis berjudul “Praktik Komodifikasi Khalayak Terhadap Pelaksanaan Kode Etik Jurnalistik (Studi Kasus LKBN ANTARA Jawa Timur)”.
"Tesis ini saya tulis sebagai refleksi atas realitas kerja jurnalistik di era digital, ketika redaksi menghadapi tekanan komersialisasi, namun tetap harus menjaga integritas dan kode etik jurnalistik,” kata Malik dalam kutipan di Antarajatim di Surabaya, Senin (26/1/2026)
Menurutnya, penelitian tersebut bertujuan menganalisis penerapan Kode Etik Jurnalistik (KEJ), mengidentifikasi bentuk-bentuk komodifikasi khalayak, serta memahami hubungan antara praktik etis jurnalistik dan tekanan komersialisasi di ruang redaksi.
Pria penyuka kopi ini menegaskan, bahwa penelitian yang dibuat menggunakan sistem pendekatan etnografi melalui observasi partisipatif di ruang redaksi, wawancara mendalam dengan pewarta, editor, dan manajemen, serta analisis dokumen internal.
Bahkan katanya, penemuan penelitian menunjukkan adanya berbagai manifestasi komodifikasi, mulai dari pemanfaatan data pengunjung, strategi konten berbasis metrik keterlibatan, hingga kecenderungan mengemas berita sebagai produk komersial di tengah tuntutan target produksi.
“Kode etik jurnalistik bagi saya bukan sekadar aturan normatif, tetapi juga menjadi ruang negosiasi profesional agar idealisme tetap terjaga di tengah tuntutan industri media,” kata Malik
Meski demikian lanjut Malik, mekanisme editorial seperti verifikasi fakta, rapat redaksi, pelatihan jurnalistik, serta proses kompromi redaksional tetap menjadi instrumen utama dalam menjaga penerapan kode etik jurnalistik.
“Kode etik jurnalistik bagi saya bukan sekadar aturan normatif, tetapi juga menjadi ruang negosiasi profesional agar idealisme tetap terjaga di tengah tuntutan industri media,” pungkas Malik penuh keyakinan.
Sumber : Antara Jatim
Editor : Ali Topan