JATIMKINI.COM, Para guru dan siswa SMAN 1 Dawarblandong menerbitkan 21 buku beragam genre yang diproses ramai-ramai.
Awal semester genap tahun ajaran 2026 di SMAN 1 Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, berlangsung dengan nuansa berbeda. Hari pertama masuk sekolah, Senin (5/1/2026).
Suasananya tidak hanya diisi rutinitas akademik, tetapi juga ditandai dengan peluncuran 21 buku karya siswa dan guru sebagai wujud nyata budaya literasi yang terus tumbuh di lingkungan sekolah.
Peluncuran buku dilakukan usai upacara bendera dan menjadi momentum simbolik bahwa proses belajar tidak berhenti di ruang kelas, tetapi berlanjut hingga menghasilkan karya yang bernilai dan dapat dibaca publik.
Puluhan buku tersebut merupakan hasil kerja kolektif siswa kelas X hingga XII bersama para guru, yang dirangkum dalam bentuk antologi.
Kepala SMAN 1 Dawarblandong, Edy Sucahyono, menjelaskan bahwa seluruh karya tersebut lahir dari proses panjang pembiasaan menulis.
“Mulai dari siswa kelas X sampai kelas XII, semuanya terlibat dan menghasilkan karya yang kemudian dibukukan dalam antologi,” ujarnya.
Menurut Edy, tema dan bentuk karya yang diluncurkan pun beragam, mencerminkan kebebasan berekspresi sekaligus kedewasaan berpikir para penulis muda.
Buku-buku tersebut mencakup antologi puisi, cerita pendek, novel, hingga cerita pendek berbahasa Inggris. Keberagaman genre ini, kata dia, menjadi cermin iklim literasi yang hidup dan inklusif di sekolah.
Ia menambahkan, peluncuran 21 buku tersebut sekaligus menjadi kado istimewa bagi peringatan Dies Natalis ke-23 SMAN 1 Dawarblandong.
“Ini bukan sekadar perayaan, tetapi peneguhan bahwa literasi telah menjadi budaya yang mengakar di sekolah kami,” ucapnya.
Edy menilai capaian tersebut sebagai bukti kesungguhan siswa dan guru dalam mendukung peningkatan kualitas literasi. Ia berharap tradisi menulis dan menerbitkan buku dapat terus dijaga secara berkelanjutan, sehingga melahirkan karya-karya baru setiap tahun.
“Potensi ini adalah basis karya pustaka yang patut diapresiasi. Semoga konsistensi ini terus terjaga dan memberi manfaat lebih luas, tidak hanya bagi sekolah, tetapi juga dunia pendidikan,” paparnya.
Pada kesempatan tersebut, Edy Sucahyono secara simbolis menyerahkan buku karya siswa sebagai tanda resmi peluncuran antologi. Ia juga mendorong agar program literasi ini tidak berhenti pada seremoni, melainkan berkembang menjadi gerakan menulis yang melahirkan buku-buku berkualitas dan memperkaya khazanah pustaka sekolah.
“Momentum ini menjadi bukti bahwa semangat menulis dapat tumbuh jika terus dilatih dan difasilitasi. Tepat di awal 2026 dan awal semester genap, komitmen itu berhasil diwujudkan,” pungkasnya.
Editor : Ali Topan