JATIMKINI.COM, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) bersama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Timur menggelar workshop bertajuk ‘Sinergi perbankan syariah dalam rangka pelruasan akses layanan perbankan syariah’ dalam ajang Indonesia Islamic Finance Summit 2025.
Dalam gelaran yang berlangsung pada Selasa (4/11/2025), Bank Jatim melalui Unit Usaha Syariah (UUS) Bank Jatim juga berkesempatan melakukan penandatanganan kerja sama dengan Yayasan Rumah Wakaf Indonesia tentang Cash Waqf Linked Deposit (CWLD), serta kerja sama dengan yayasan Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Lirboyo - Kediri tentang layanan jasa keuangan dalam rangka Penerimaan biaya pendidikan melalui fasilitas virtual account menggunakan katalis barokah.
Direktur Utama Bank Jatim Winardi Legowo menjelaskan, perjanjian kerja sama dengan Ponpes Lirboyo ini bertujuan untuk meningkatkan pelayanan dan memberikan kemudahan pelayanan transaksi keuangan yang dilakukan oleh siswa ponpes melalui VA menggunakan katalis barokah.
Layanan jasa keuangan lainnya meliputi layanan penyimpanan, penempatan dan pengelolaan dana, layanan transaksi keuangan (setor, tarik, pindahbuku, transfer antar bank) untuk keperluan pembayaran, uang gedung dan/atau pembayaran dana, pembagian beasantri terhadap mahasantri, dan iuran lainnya.
“Semua layanan transaksi keuangan tersebut dapat difasilitasi melalui VA menggunakan katalis barokah,” jelasnya.
Sedangkan kerja sama dengan Rumah Wakaf dilakukan untuk program CWLD Nazhir Yayasan Gerakan Wakaf Indonesia melalui program budidaya pisang cavendish, serta melalui program modal usaha Mobile Coffeelab.
Di tengah keterbatasan akses pangan bergizi dan peluang ekonomi di daerah, Gerakan Wakaf Indonesia menghadirkan program CWLD seri 02 - budidaya pisang cavendish sebagai wakaf produktif yang berdampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Program ini dilaksanakan di Tuban dengan memanfaatkan lahan seluas 1 hektar untuk budidaya pisang cavendish yang merupakan komoditas unggulan bernilai gizi tinggi dan berdaya tahan baik. Hasil panen akan dimanfaatkan untuk mendukung program sosial dan kesejahteraan masyarakat serta memberdayakan petani lokal.
Menurut Winardi, dalam pengembangan ekonomi syariah terdapat 2 tujuan besar, yakni bagaimana mendorong literasi keuangan syariah di masyarakat agar lebih paham. Serta, Bank Jatim sendiri juga harus bisa memanfaatkan produk-produk yang ada, termasuk layanan keuangan syariah contohnya saat ini sudah ada produk CWLD yang memiliki banyak varian.
“Nah varian yang banyak itu butuh (dioptimalkan) agar bisa menjelaskan pada masyarakat sehingga masyarakat itu mengerti jika memang memerlukan produk ini, termasuk di internal kami juga harus diperkuat infrastrukturnya (unit syariah),” tambahnya.
Dirut Bank Jatim Winardi Legowo (kiri) dan Wagub Jatim Emil Dardak (tengah) diwawancari sejumlah media di Surabaya usai workshop IIFS, Selasa (4/11/2025). Foto : Peni Widarti
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak menyatakan bahwa Bank Jatim harus punya level of commitment yang tinggi untuk mengembangan produk syariah yang ada di UUS Bank Jatim.
“IIFS ini adalah satu bukti, satu momentum untuk meneguhkan komitmen Bank Jatim yang turut mengembangkan fungsinya yang harus maju, harus all out karena potensi ekonomi syariah masih sangat besar, tapi kita grab tidak potensi itu?,” ucapnya.
Menurutnya, isu perbankan syariah tidak hanya untuk lokal tapi nasional yang dibuktikan dari dileburnya lembaga bank syariah menjadi satu karena memiliki tujuan besar yakni Bank Syariah Indonesia (BSI).
“Jadi upaya mendorong inklusi syariah ini bukan hanya khusus terjadi di Jatim, tapi seluruh Indonesia. Melihat pemaparan data OJK, sebenarnya ada growth yang baik (perbankan syariah), tapi memang ruangnya masih gede, nah ruang yang gede ini artinya masih bisa dioptimalkan,” imbuhnya.
Editor : Peni Widarti