JATIMKINI.COM, Pelabuhan Tanjung Perak tak pernah berhenti menegaskan posisinya sebagai gerbang utama logistik di Indonesia Timur. Dari sini, ribuan ton barang bergerak setiap hari, menghubungkan jalur domestik dan internasional. Namun, ada satu potensi yang kini mulai diperkuat untuk membangun narasi rantai pasok ke depan: curah cair di Terminal Nilam.
PT Pelindo Multi Terminal (SPMT), subholding yang mengelola Terminal Nilam Utara dan Timur, tengah menyiapkan diri untuk menggarap layanan berbasis produk kimia (chemical).
Fokus ini bukan muncul tiba-tiba. Ia mengikuti arah Rencana Induk Pelabuhan (RIP) yang ditetapkan pemerintah bersama Badan Usaha Pelabuhan (BUP).
“Tren ke depan kami perkirakan lebih banyak menyasar produk chemical. Alasannya sederhana: kebutuhan penyimpanan produk kimia, baik pasar domestik maupun ekspor, masih terbuka lebar,” kata Muhammad Junaedhy, Branch Manager Terminal Jamrud, Nilam, dan Mirah, ketika ditemui di ruang kerjanya.
Junaedhy—akrab disapa Jun—menjelaskan bahwa Terminal Nilam sudah melakukan business mapping. Dari komunikasi dengan pengguna jasa, pemetaan potensi pasar, ketersediaan ruang, hingga rencana investasi jangka panjang, semuanya tengah disiapkan.
“Sebetulnya market sudah ada. Saat ini pembuatan MoU sedang berproses, sambil terus berkomunikasi dengan pengguna jasa,” tambah pria kelahiran Semarang itu.
Di Terminal Nilam, saat ini tersedia enam tangki timbun atau tank storage. Kapasitasnya terdiri dari tiga unit masing-masing 5.600 ton dan tiga unit lainnya berkapasitas 3.600 ton. Kapasitas ini dinilai cukup untuk menopang pengembangan layanan curah cair, khususnya chemical, dalam waktu dekat.
Sejauh ini, Terminal Nilam sudah menjadi rumah bagi sejumlah layanan curah cair: mulai dari high speed diesel (HSD), marine fuel oil (MFO), crude palm oil (CPO), liquefied petroleum gas (LPG), hidrogen klorida (HCL), hingga produk curah cair lain.
Bagi Jun, arah ke depan jelas: memperkuat layanan, memperbaiki sistem, dan memperbarui pola operasi. “Dari semua layanan di Terminal Nilam, ke depan akan kami perbaiki sistem dan pola operasinya, untuk menggenjot produktivitas. Tentunya tidak meninggalkan aspek keselamatan operasi,” ujarnya.
Terminal Nilam bukan sekadar simpul logistik di Surabaya. Ia adalah bagian penting dari upaya memperkuat rantai pasok domestik maupun internasional. Dari sini, pasokan energi, minyak nabati, hingga bahan kimia mengalir ke berbagai wilayah.
Dalam konteks yang lebih luas, Terminal Nilam menjadi representasi bagaimana infrastruktur pelabuhan tak hanya soal bongkar muat, tetapi juga tentang daya tahan ekonomi.
Editor : Rochman Arief