x
x

Dadang Christanto: Akibat Kalah Perang Budaya, Jantung Peradaban Kita Karam

JATIMKINI.COM, ‎Di tengah arus seni rupa yang sering terjebak pada estetika lipstick, Dadang Christanto memilih jalan yang lebih sunyi sekaligus lebih terjal, menjadikan seni rupa sebagai senjata nurani. 

‎Bagi senirupawan kelahiran Tegal, Jawa Tengah 1957 ini, seni bukan sekadar hiasan dinding melainkan “model of a statement”  pernyataan sikap yang tegas terhadap pelanggaran hak asasi manusia, kekerasan politik serta pengikisan budaya asli Nusantara.

‎Latar kehidupannya telah menorehkan luka kolektif yang terus ia bawa. Ayahnya menjadi korban peristiwa politik 1965. Dari situlah karya-karyanya lahir dengan denyut kemarahan yang tertahan dan empati yang tak habis. Figur kepala manusia, instalasi bambu dengan foto orang hilang, hingga pertunjukan tubuh-tubuh berlumpur adalah cara Dadang memaksa publik mengingat tragedi yang ingin dilupakan negara.

‎Tidak hanya di Indonesia, suaranya juga menggema di panggung seni dunia. Sebut saja Venice Biennale (2003), Gwangju Biennale (2000), Bienal de São Paulo (1998), hingga Sydney Biennale (2010). 

‎Jejaknya menempatkan namanya sejajar dengan seniman-seniman besar dunia yang menggunakan seni sebagai alat perjuangan kemanusiaan: Pablo Picasso dengan “Guernica”-nya yang memprotes pembantaian sipil, Ai Weiwei yang menelanjangi represi politik di Tiongkok, Frida Kahlo yang menyuarakan penderitaan pribadi dan kaum tertindas hingga Käthe Kollwitz yang memotret derita kaum miskin dan korban perang.

‎Kini, di gelaran ArtSubs 2025 di Balai Pemuda Surabaya (2 Agustus–7 September), Dadang kembali memantik kesadaran lewat karya “Jawa Dalam Samudra Sunyi”, triptych berwarna biru laut yang memadukan figur wayang, simbol Pawukon (kalender agraris Hindu Jawa), dan wajah manusia yang tenggelam.Triptych adalah karya seni yang terdiri dari tiga panel yang saling terhubung.

‎Karya ini menjadi metafora peradaban agraris Hindu Jawa yang perlahan karam tergeser oleh budaya massa yang terjebak pada euforia agama manca  namun tercerabut dari akar spiritual tradisinya.

‎Bagi Dadang, jarak dari tanah kelahiran justru membuat pandangannya lebih jernih. Dari Australia ia melihat Jawa bukan sekadar kenangan tetapi juga medan pertarungan memori sekaligus peperangan budaya. 

‎“Melalui karya, saya ingin mendokumentasikan apa yang kian dilupakan,” ujarnya. 

Dalam bahasa lain, ia mengajak kita melawan lupa, bukan hanya terhadap tragedi kemanusiaan tapi juga terhadap warisan budaya yang menjadi jantung peradaban telah karam akibat kalah dalam perang budaya.

Membaca Gambar

‎Menikmati karya Dadang, di sisi keindahannya terdapat ruang tafsir atas simbol-simbol yang disajikan dalam mengungkap tema utama.

‎Dominasi warna biru menciptakan atmosfer laut dalam, memberi kesan sunyi, dalam dan misterius. Biru di sini bukan sekadar estetika tetapi simbol kedalaman sejarah dan tenggelamnya peradaban.

‎Tiga panel berkesinambungan ini  triptych  layaknya fragmen cerita, masing-masing panel memuat kepingan sejarah dan tokoh wayang.  Menyiratkan bahwa ingatan budaya tak pernah utuh, selalu ada yang hilang atau terpotong.

‎Wajah raksasa tenggelam simbol manusia sebagai pusat peradaban yang kini terbenam, seakan tak lagi bernafas di ruang sosial yang ia lahirkan.

‎Perpaduan wayang dan pawukon  mengangkat khazanah agraris Hindu Jawa yang nyaris punah, sekaligus mengajak publik memahami bahwa kalender dan wayang bukan sekadar benda tradisi tetapi sistem pengetauan yang mengatur hidup masyarakat.

‎Metafora kehilangan. Kehadiran figur dan simbol yang melayang di ruang biru memperlihatkan fragmen-fragmen memori yang tercerai-berai. Inilah cara Dadang memvisualkan kehilangan, baik kehilangan manusia dalam tragedi politik maupun hilangnya warisan budaya.

‎Karya Dadang juga merupakan  pendekatan dokumentasi artistik.  Alih-alih mengkhotbahi penonton, Dadang mengajak mereka menyelami visualnya, membiarkan pesan kemanusiaan itu muncul dari pertemuan mata dan hati.

‎Karya ini mengingatkan bahwa pelanggaran HAM tidak hanya berbentuk kekerasan fisik tetapi juga penghapusan identitas budaya.


‎Menghadirkan narasi tentang Jawa yang tenggelam di samudra sunyi adalah cara halus namun tajam untuk mengkritik bangsa yang selalu kalah.

Berita Terbaru
Jumat, 15 Agu 2025 21:41 WIB

Perkuat Kecintaan Tanah Air. Sari Roti Dukung Kreativitas Anak Lewat Seni Gambar

JATIMKINI.COM, Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia ke-80. Produsen roti massal terkemuka di Indonesia Sari Roti
Jumat, 15 Agu 2025 18:37 WIB

Aksi ERT Merdeka Copper Gold Berlari Melawan Waktu dan Nyawa

ERT Merdeka Copper Gold menjadi garda terdepan menghampiri bahaya ketika orang lain menjauhi bencana.
Jumat, 15 Agu 2025 17:44 WIB

BioCNG, Senjata Baru PLN NP Menuju Net Zero Emission 2060

PLN NP manfaatkan sampah sawit untuk diubah menjadi bahan bakar pembangkitan yang lebih bersih dan hijau.
Jumat, 15 Agu 2025 16:13 WIB

Pidato HUT RI Ke 80, Prabowo Peringatkan Para Jenderal soal Korupsi dan Kebocoran Kekayaan Negara

JATIMKINI.COM, Presiden RI Prabowo Subiato peringatkan para Jenderal soal korupsi dan kebocoran kekayaan negara
Jumat, 15 Agu 2025 14:26 WIB

Terminal Teluk Lamong Rayakan HUT RI Lewat Angklung dan Penghijauan

Menyambut HUT RI tak selamanya dengna lomba, TTL menyambutnya dengan pelestarian budaya dan penghijauan di sekitar terminal.
Jumat, 15 Agu 2025 13:48 WIB

Peringatan HUT RI : Pelindo Petikemas Tanam Seribu Pohon Hijaukan Area Kerja

JATIMKINI.COM, PT Pelindo Terminal Petikemas menyemarakkan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan melakukan penanaman pohon secara serentak di seluruh