JATIMKINI.COM, Hari Anak Nasional tahun ini menjadi momentum reflektif bagi PT Pelindo Daya Sejahtera (PDS). Bekerja sama dengan SD Barunawati Surabaya, anak perusahaan Pelindo Group itu menggelar kegiatan edukatif dan rekreatif.
Cukup reflektif apa yang dikerjasamakan PDS di Hari Anak Nasional ini. Alih-alih membiarkan anak-anak larut dalam layar, mereka diajak bermain—secara nyata, dengan tubuh dan tawa.
Sebanyak 152 siswa, dari kelas 1 hingga 6, memadati halaman sekolah. Tidak ada gawai. Tidak ada aplikasi. Yang ada justru suara riang bermain lompat tali, bola bekel, ular tangga, engklek, dakon, hingga futsal. Semua permainan tradisional yang nyaris tergeser oleh gemerlap dunia digital kini kembali dihidupkan.
“Melalui permainan tradisional, anak-anak belajar kerja sama, sportivitas, dan tentu saja merasakan kebahagiaan tanpa ketergantungan pada gadget,” ujar Parbianto, Sekretaris Perusahaan PDS. Ia menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan dalam pengembangan karakter anak di era serba instan.
Bukan sekadar nostalgia, kegiatan ini adalah bentuk intervensi sosial. Di tengah gempuran teknologi yang mengubah pola tumbuh kembang anak, PDS menawarkan alternatif: masa kecil yang lebih manusiawi. Interaksi langsung, kerja sama tim, hingga imajinasi yang terasah lewat sesi mendongeng menjadi bagian tak terpisahkan dari acara.
“Generasi tangguh tak lahir dari layar. Mereka lahir dari interaksi, dari permainan, dari cerita yang hidup,” lanjut Parbianto.
Kegiatan ini sekaligus menjadi cermin sinergi antara korporasi dan lingkungan pendidikan yang berada dalam satu naungan, Pelindo Group. Namun lebih jauh, ini adalah ajakan.
Bahwa perusahaan punya peran sosial: menciptakan ruang aman dan sehat bagi anak-anak. Interaksi ini bukan sekadar bentuk CSR simbolik, melainkan pendekatan berkelanjutan.
Di tengah dunia yang makin cepat dan makin sibuk, permainan tradisional justru menawarkan ruang jeda. Ruang itu kini mulai langka. Maka, apa yang dilakukan PDS bisa dibaca sebagai perlawanan kecil terhadap algoritma dan notifikasi. Semoga bukan yang terakhir.
Editor : Rochman Arief