JATIMKINI.COM, Nilai uang seolah kehilangan daya beli ketika masuk ke pasar tradisional. Seperti di Pasar Brangkal, Kabupaten Mojokerto, uang Rp 50.000 kini nyaris tak cukup untuk memenuhi kebutuhan bumbu selama sepekan. Tomat dijual Rp 15.000 per kilogram, hampir dua kali lipat dari harga sebulan lalu yang hanya Rp 8.000. Sementara cabai rawit merah melonjak drastis hingga menyentuh Rp 80.000 per kilogram.
Kondisi ini bukan sekadar keluhan lokal. Berdasarkan pemantauan DetikJatim.com pada Sabtu, 5 Juli 2025, tren harga sembako di Jawa Timur menunjukkan fluktuasi tajam, dengan beberapa komoditas mengalami kenaikan di atas 3%. Komoditas seperti telur ayam kampung, garam bata dan cabai rawit merah menjadi pemicu utama meningkatnya beban pengeluaran rumah tangga.
Data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok Jawa Timur per 5 Juli 2025 mengungkapkan rincian harga sejumlah kebutuhan pokok:
Beras Premium: Rp 14.319/kg
Minyak Goreng Kemasan Premium: Rp 20.500/liter
Telur Ayam Kampung: Rp 52.096/kg
Cabai Rawit Merah: Rp 63.479/kg
Daging Ayam Kampung: Rp 68.362/kg
Per 14 Juli 2025, harga produsen untuk cabai rawit merah tercatat lebih tinggi lagi, mencapai Rp 80.000/kg berdasarkan data taniku.kulonprogo.go.id. Kenaikan ini mencerminkan tekanan harga yang dirasakan konsumen langsung di pasar.
Faktor-faktor penyebab lonjakan harga sembako sangat kompleks. Di antaranya adalah:
Cuaca ekstrem yang memengaruhi produksi pertanian,
Kenaikan biaya produksi seperti pupuk dan bahan bakar,
Ketergantungan impor, terutama pada komoditas tertentu,
Fluktuasi nilai tukar rupiah, yang membust mahal harga barang impor.
Inflasi, serta masalah distribusi akibat kemacetan logistik atau kurangnya pasokan.
Tak hanya di Mojokerto, kondisi serupa terjadi di berbagai daerah lain di Jawa Timur. Misalnya, di Kota Pasuruan, harga tomat dan cabai juga dilaporkan melambung tinggi, seiring menipisnya pasokan akibat gagal panen.
Ketidakstabilan harga ini tentu membawa dampak signifikan pada daya beli masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah.
Sembilan bahan pokok yang terdiri dari beras, gula, minyak, daging, telur, susu, bawang, elpiji, dan garam menjadi komponen vital dalam pengeluaran rumah tangga. Kenaikan harga pada satu atau dua item saja dapat memicu domino efek pada stabilitas ekonomi keluarga.
Pengamat ekonomi pangan menyarankan perlunya intervensi cepat dari pemerintah, baik berupa operasi pasar, subsidi harga maupun stabilisasi distribusi. Tanpa langkah konkret, harga-harga ini bisa terus membumbung dan menyulitkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.
Editor : Ali Topan