Remo Munali Fatah Diakui Sebagai WBTb. Jejak Maestro Dalam Evolusi Seni Tradisi Arek

Reporter : Rokimdakas
Tari Remo massal gaya Munali Fatah di alun-alun Sidoarjo, Sabtu kemarin ( Foto : Rokimdakas / Jatimkini.com )

JATIMKINI.COM, Seniman sejati selalu ingin menciptakan karya yang spesifik, memiliki ciri khas sebagai puncak keberhasilan eksplorasi dan eksperimentasi dalam tempo panjang. Munali Fatah layak dicatat dalam jajaran seniman seperti itu. Karya tarinya memiliki karakteristik tersendiri yang memperkaya khazanah Tari Remo Jawa Timur. 
 
Kini, Remo gaya Munali Fatah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Kabupaten Sidoarjo, Sabtu (17/10/2026).
 
Pengakuan tersebut bukan sekadar penghormatan kepada seorang maestro. Di baliknya tersimpan kisah pengabdian, kebanggaan keluarga, dan perjalanan panjang evolusi kesenian tradisional yang terus menemukan kehidupan baru dari generasi ke generasi.
 
Karya Maestro Melampaui Usia
 
Munali Fatah telah dimakamkan di Desa Banjarkemantren, Kecamatan Buduran, Sidoarjo, sejak 5 April 2004. Namun, karya yang ditinggalkannya terus hidup melalui para penari yang mempelajari dan mementaskannya.
 
Di tengah Festival Munali Patah VI 2026 di Alun-Alun Sidoarjo, Uriaty (37), anak ketiga almarhum, mengungkapkan kebanggaan sekaligus keharuan keluarganya.
 
“Alhamdulillah, sebuah kebanggaan dan keharuan yang tak terhingga bagi kami sekeluarga,” ujar Uriaty, yang juga mengajar tari di sejumlah sanggar di Sidoarjo.
 
Bagi Uriaty, pengakuan tersebut bukan sekadar penghormatan terhadap nama ayahnya. Ada pengabdian panjang yang memperoleh pengakuan, sekaligus harapan agar generasi penerus tidak kehilangan hubungan dengan warisan kesenian yang telah diperjuangkan.
 
Ayahnya memang telah tiada. Namun, setiap kali Tari Remo gaya Munali Fatah dipentaskan, jejak kreativitasnya kembali hadir melalui gerak tubuh para penari.
 
Di situlah seni menunjukkan kekuatannya, bahwa karya dapat menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan, bahkan ketika penciptanya telah lama berpulang.
 
Munali Fatah atau Munali Patah?
 
Ada hal menarik dalam penyebutan nama sang maestro. Dalam penulisan formal, namanya dikenal sebagai Munali Fatah. Namun, dalam pergaulan masyarakat subkultur Arek, ia lebih akrab disebut Munali Patah.
 
Perbedaan pelafalan ini tidak sekadar persoalan ejaan. Dalam dialek Arek, bunyi huruf F tidak selalu akrab di lidah penuturnya sehingga dapat terdengar sebagai P. Fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana bahasa lokal turut memberi warna pada penyebutan nama seseorang dalam kehidupan sehari-hari.
 
Karena itu, nama Munali Fatah dan sebutan Munali Patah dapat dipahami dalam konteks masing-masing. Nama formal penting untuk pencatatan sejarah dan dokumentasi kebudayaan, sedangkan sebutan lokal merekam kedekatan sosial masyarakat dengan sosok sang maestro.
 
Tari Remo dan Evolusi Kesenian Tradisi
 
Tari Remo tidak lahir dalam ruang budaya yang kosong. Perkembangannya berkaitan dengan dinamika berbagai kesenian tradisional Jawa Timur, termasuk Bandan, Lerok, dan Besutan. Hubungan tersebut memperlihatkan proses evolusi seni pertunjukan yang berlangsung melalui pewarisan, perjumpaan, dan pengolahan kreatif antargenerasi.
 
Dalam perkembangannya, Tari Remo dikenal sebagai tarian pembuka pertunjukan ludruk. Ketika ludruk ditampilkan Cak Durasim di Surabaya dan semakin dikenal di berbagai kota Jawa Timur, persebaran kesenian ini ikut meluas. Pertemuan dengan lingkungan budaya yang berbeda turut membuka ruang bagi kreativitas para seniman.
 
Dari proses perkembangan tersebut dikenal beragam gaya Tari Remo, antara lain Jombangan, Suroboyoan, Malangan, Mojokertoan dan Maduraan. Setiap gaya memiliki karakter penyajian dan kekhasan artistik yang mencerminkan pengalaman para pelakunya.
 
Koreografi Tari Remo yang dapat ditampilkan secara tunggal juga berkembang menjadi pertunjukan berpasangan, berkelompok, hingga massal.
 
Evolusi ini menunjukkan bahwa tradisi bukan kesenian yang beku. Ia bertahan karena terus diolah, disesuaikan, dan diperkaya tanpa kehilangan hubungan dengan akar sejarahnya.
 
Ciri Remo Munali Fatah
 
Di tengah evolusi tersebut, Munali Fatah menghadirkan sumbangan kreatif melalui gaya Tari Remo yang memiliki karakteristik tersendiri. Pengalaman panjangnya di dunia pertunjukan menjadi bagian dari proses pembentukan identitas artistik tersebut. 
 
Salah satu unsur yang dikenal dalam penyajiannya adalah gerak sabetan iket.
 
Ciri khas seorang maestro perlu ditempatkan dalam konteks sejarah yang lebih luas. Pengakuan terhadap Munali Fatah tidak berarti memisahkan karyanya dari perkembangan kolektif Tari Remo. 
 
Sebaliknya, pengakuan itu menegaskan kontribusi individual seorang seniman dalam memperkaya tradisi yang diwariskan bersama.
 
Karena itu, dokumentasi sejarah, koreografi, teknik gerak, serta kesaksian keluarga dan pelaku seni perlu diperkuat. 
 
Generasi muda tidak cukup hanya mengenal nama sang maestro, tetapi juga perlu memahami proses kreatif dan nilai artistik yang membuat karyanya memiliki identitas.
 
WBTb Bukan Garis Akhir Pelestarian
 
Penetapan Remo gaya Munali Fatah sebagai WBTb Kabupaten Sidoarjo merupakan momentum penting untuk memperkuat pelindungan kesenian tradisional. 
 
Namun, pengakuan formal tidak otomatis menjamin tradisi tetap hidup.
Pemerintah, lembaga kebudayaan, sekolah, sanggar tari, dan masyarakat perlu menerjemahkan pengakuan itu melalui pendidikan seni, regenerasi penari, dokumentasi,  penyediaan ruang pertunjukan yang berkelanjutan beserta  pendanaan.
 
Uriaty dan keluarga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dewan Kesenian Sidoarjo, serta semua pihak yang terlibat dalam proses pengkajian dan penetapan.
 
Bagi keluarga, penghargaan itu membawa kebanggaan sekaligus kerinduan. Bagi masyarakat, pengakuan tersebut semestinya menjadi panggilan untuk merawat warisan budaya secara nyata.
 
Akhirul kalam, ukuran keberhasilan pelestarian bukan hanya tercantumnya nama Munali Fatah dalam daftar warisan budaya. Tolok ukurnya adalah ketika generasi muda mengenal sejarahnya, memahami kekhasan geraknya, dan bersedia meneruskan kesenian tersebut dengan penuh tanggung jawab.
 
Sebab, tradisi tidak hidup hanya karena dikenang atau diakui negara. Tradisi hidup ketika terus dipelajari, dikembangkan, dan diwariskan. 
 
Selama Tari Remo gaya Munali Fatah tetap bergerak di panggung-panggung kesenian, jejak sang maestro akan terus menemukan kehidupan baru dalam perjalanan budaya Jawa Timur.
 

Baca juga: Menjaga Tradisi Agar Tak Kehilangan Generasi. Festival Ludruk Surabaya 2026 Siap di Gelar

Editor : Ali Topan

Ekonomi
Berita Populer
Berita Terbaru