JATIMKINI.COM, Kelestarian ludruk tidak cukup hanya dengan mempertahankan pertunjukan tradisional. Kesenian ini juga membutuhkan generasi penerus, ruang kreativitas, dan penonton baru agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Semangat tersebut menjadi salah satu pijakan penyelenggaraan Festival Ludruk Surabaya 2026 yang mengusung tema “Semangat Kepahlawanan”.
Pendaftaran berlangsung pada 6–12 Oktober 2026. Festival diharapkan menjadi momentum memperkuat keberlanjutan ludruk sekaligus membuka jalan bagi lahirnya kreativitas baru dari para senimannya.
Festival dijadwalkan berlangsung pada 13–14 November 2026 di Gedung Balai Budaya Surabaya. Sosialisasi festival disampaikan Fidelia Septi Verlaidi, Sub Koordinator Pengembangan Seni dan Budaya di Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya. Kegiatan tersebut dihadiri 22 perwakilan grup ludruk di Surabaya.
Festival ini dirancang sebagai ruang kreasi, apresiasi, dan kolaborasi bagi para pelaku seni tradisional. Harapannya, ludruk tidak sekadar menjadi peninggalan budaya yang dikenang, tetapi terus berkembang dan diminati lintas generasi.
Tema kepahlawanan memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengolah cerita yang relevan dengan kehidupan masa kini, tanpa meninggalkan karakter ludruk dan nilai-nilai Pancasila.
Empat unsur utama menjadi perhatian penilaian, yakni tari remo, kidungan jula-juli, dagelan, serta naskah dan ide cerita. Peserta diperbolehkan menyajikannya secara kreatif, tidak harus mengikuti urutan pertunjukan konvensional.
Musik dasar tetap menggunakan gamelan slendro. Kolaborasi dengan instrumen lain diperbolehkan selama tidak menghilangkan gending jula-juli. Durasi penampilan maksimal 45 menit, termasuk bongkar-pasang properti.
Panitia menyiapkan penghargaan bagi tiga penyaji terbaik, masing-masing Rp5 juta, serta lima kategori penghargaan individu senilai Rp1 juta per kategori.
Peserta juga memperoleh dukungan anggaran produksi sebesar Rp10.296.000 setelah pemotongan pajak, berikut fasilitas panggung, tata suara, lampu, dan gamelan slendro.
Melalui festival ini, tantangan terbesar bukan hanya menampilkan ludruk yang menarik, melainkan memastikan kesenian tersebut tetap tumbuh, diwariskan, dan menemukan penonton baru di tengah perubahan zaman.
Tradisi hanya akan benar-benar lestari jika terus dipraktikkan, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Editor : Ali Topan