JATIMKINI.COM, Emiten tisu dan kertas, PT Suparma Tbk (SPMA) tengah mengejar target penjualan 2026 sebesar Rp3 triliun melalui sejumlah startegi.
Direktur Suparma, Hendro Luhur menjelaskan, tahun ini perseroan memproyeksikan penjualan bersih bisa tumbuh 7,1 % dibanding target penjualan 2025 yakni diharapkan bisa mencapai Rp3 triliun.
Baca juga: Penjualan Naik Tipis, Suparma Siapkan Strategi Pengembangan Usaha
"Per 5 bulan 2026 (Januari - Mei), penjualan bersih kita sudah tercapai Rp1,17 triliun atau 39,1% dari target," katanya siaran pers RUPS, Selasa (30/6/2026).
Secara kuantitas, lanjut Hendro, penjualan kertas periode 5 bulan 2026 sebesar 92.960 MT atau 36,5 ri target kuantitas 2026 sebesar 255.000 MT. Target kuantitas ini 6,3 % lebih tinggi dari target kuantitas penjualan kertas 2025.
Hasil produksi kertas 5 bulan 2026 tercatat 97.994 MT atau 39,2ri target produksi kertas 2026 sebesar 250.000 MT.
"Target produksi ini tumbuh 10,7ri target produksi kertas 2025," tambahnya.
Guna meningkatkan kapasitas produksi di masa depan, Suparma menganggarkan belanja modal setara US$23 juta untuk proyek Mesin Kertas No.11 (MK 11) pada 2024.
Anggaran mencakup mesin kertas utama beserta perlengkapan, suku cadang, bangunan dan prasarana. MK 11 diharapkan tambah kapasitas terpasang 27.000 MT.
Pada 6 Februari 2025, Suparma juga menandatangani kontrak pembelian mesin utama PM 11 dengan supplier dari Finlandia senilai EUR 6,35 juta. Pendanaan proyek pakai internal kas US$6 juta, sisanya US$17 juta dari fasilitas kredit investasi bank rekanan.
"MK 11 direncanakan produksi komersial pada triwulan keempat 2026," tambah Hendro.
Dalam mencapai target kinerja tahunan, Suparma menggunakan 4 strategi di antaranya memperkuat struktur permodalan untuk permudah pendanaan, distribusi laba tanpa membebani keuangan, menambah jumlah saham beredar agar likuiditas naik, dan secara teoritis menurunkan harga saham agar investor modal terbatas bisa masuk.
Dalam RUPS 30 Juni 2026 ini, perseroan memutuskan tidak membagikan dividen tunai meski laba komprehensif tahun berjalan 2025 naik 1,6 % menjadi Rp104,8 miliar dibanding 2024.
Baca juga: Suparma Catat Penjualan Bersih Rp2,72 Triliun di 2024. Begini Strategi Berikutnya
Setelah dikurangi pembentukan dana cadangan wajib Rp20 miliar, sisa laba komprehensif dipakai untuk memperkuat struktur permodalan, pengembangan usaha, dan investasi.
Fokus investasi diarahkan untuk meningkatkan kapasitas mesin Refuse Derived Fuel (RDF), bangunan dan mesin pendukung Mesin Kertas No. 11, serta meningkatkan kualitas mesin de-inking, mesin cetak, instrumen analitik Quality Assurance (QA), dan bangunan kantor.
Sebagai ganti dividen tunai, Suparma membagikan dividen saham dari kapitalisasi saldo laba sebanyak-banyaknya Rp492.038.092.000 yang terbagi atas sebanyak-banyaknya 1.230.095.230 lembar saham.
Rasio pembagian 100 : 30, yaitu setiap 100 saham lama dengan nilai nominal Rp400 per lembar saham, akan memperoleh 30 saham baru dengan nilai nominal Rp400.
Adapun pada 2025, Suparma mencatat penjualan bersih Rp2,74 triliun, tumbuh 0,41 % YoY. Pertumbuhan didorong naiknya kuantitas penjualan 2,5 % menjadi 235.100 MT. Produk Kraft dan Duplex menyumbang pertumbuhan kuantitas masing-masing 5,5n 1,5%.
Beban pokok penjualan turun tipis 0,45% dibanding 2024. Kombinasi penurunan beban pokok dan kenaikan penjualan membuat laba kotor naik 5,23ri Rp412,8 miliar di 2024 menjadi Rp434,4 miliar di 2025. Marjin laba kotor naik jadi 15,9ri sebelumnya 15,1%.
Baca juga: Suparma Optimistis Potensi Pasar Tisu Masih Besar. Begini Langkahnya
Sepanjang 2025, beban operasional naik: beban penjualan 1,5n beban umum-administrasi 12,2%. Beban gaji dan upah di beban penjualan naik 5,9% sedangkan di beban umum-administrasi naik 9,6%.
Editor : Peni Widarti