Sinergi Apindo-Serikat Pekerja Jadi Benteng Utama Hadapi Gejolak Ekonomi Global

Reporter : Rochman Arief
Apindo Jatim menguatkan kolaborasi dengan serikat pekerja guna meningkatkan daya saing dan kesejahteraan. (Foto: Rochman Arief/jatimkini.com)

JATIMKINI.COM, Di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global, kolaborasi antara pengusaha dan pekerja menjadi elemen krusial untuk menjaga stabilitas nasional. 

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menegaskan bahwa sinergi yang harmonis antara kedua pihak ini merupakan kunci dalam meningkatkan kolaborasi Apindo dan serikat pekerja guna memperkuat daya saing industri dalam negeri.

Baca juga: Transisi Energi Perkuat Keandalan Pembangkitan, PLN NP Sigap Hadapi Krisis Global

Wakil Ketua Umum DPN Apindo, Sanny Iskandar, menekankan bahwa di tengah tekanan ekonomi yang makin berat pada 2025, ego sektoral harus ditinggalkan. 

Menurutnya, kolaborasi Apindo dan serikat pekerja bukan sekadar slogan, melainkan kebutuhan mendesak untuk meredam dampak dinamika geopolitik global.

“Kolaborasi antara Apindi dan serikat pekerja sangat penting untuk meningkatkan daya saing dan kesejahteraan. Ini adalah fondasi utama agar sektor riil tetap tegak di tengah guncangan,” ujar Sani, di sela rapat kerja dan koordinasi provinsi (Rakerkonprov) Apindo Jatim, Rabu (22/4/2026).

Sani memaparkan, situasi ekonomi saat ini tidak bisa dianggap remeh. Konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu disrupsi pada rantai pasok energi dunia. 

Dampak dominonya sangat terasa, seperti biaya logistik melonjak, harga bahan baku industri melambung, dan ongkos produksi membengkak.

Baca juga: Apindo Jawa Timur Gandeng Polda Jatim Jaga Iklim Usaha Tetap Kondusif

Sektor-sektor vital seperti industri plastik, makanan dan minuman (mamin), hingga pengolahan nikel kini berada di bawah tekanan berat. Jika tidak diantisipasi lewat kolaborasi Apindo dan serikat pekerja yang solid, kenaikan biaya ini dikhawatirkan akan menggerus daya beli masyarakat dan menurunkan konsumsi rumah tangga yang menjadi motor penggerak ekonomi.

Dalam peta jalan penguatan ekonomi, Jawa Timur memegang peran vital. Dengan kontribusi sektor industri pengolahan mencapai 31 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), provinsi ini menjadi salah satu penopang utama ekonomi nasional.

Data menunjukkan betapa strategisnya posisi Jatim bahwa kontribusi Penanaman Modal Asing (PMA) terbesar ketiga nasional dengan angka Rp147 triliun. Sejalan dengan itu, kontribusi PDRB terbesar kedua di Indonesia yan mencapai Rp3,40 triliun. Sementara nilai ekspor Jatim yang mencapai USD28,5 miliar menempati urutan kedua nasional.

Baca juga: Udang Indonesia Dilarang Masuk AS, Sektor Perikanan di Ambang Kehancuran

Dengan basis industri yang begitu besar, implementasi dari kolaborasi Apindo dan serikat pekerja di Jawa Timur diharapkan menjadi pilot project bagi provinsi lain. Fokus utamanya terletak pada peningkatan produktivitas yang berkeadilan, di mana kesejahteraan pekerja tetap terjaga selaras dengan efisiensi perusahaan.

Apindo berkomitmen terus mendorong pemerintah agar lebih memfasilitasi dialog industrial yang konstruktif. Bagi Apindo, produktivitas bukanlah tentang menekan upah, melainkan tentang optimasi proses dan inovasi yang didukung oleh hubungan industrial yang harmonis.

“Produktivitas harus menjadi fokus bersama. Dengan sinergi yang kuat antara pengusaha dan serikat pekerja, kita optimistis daya saing nasional dapat terus ditingkatkan di tengah dinamika global yang tak menentu ini,” tutup Sanny.

Editor : Rochman Arief

Ekonomi
Berita Populer
Berita Terbaru