JATIMKINI.COM, Kinerja perekonomian Jawa Timur tahun ini diproyeksikan bakal tumbuh 4,9% - 5,7% meningkat dibandingkan proyeksi tahun lalu yakni 4,7% - 5,5n berhasil terealisasi 5,33% di 2025.
Kepala Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Timur, Ibrahim menilai, untuk mencapai proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini, setidaknya mesin ekonomi Sudah harus dipanasi sejak awal tahun mengingat momen Ramadan sudah bergeser ke bulan Februari atau di kuartal I/2026.
Baca juga: Ekonomi Jatim 2025 Tumbuh 5,33%, Diklaim Berkat Konsistensi Akselerasi Ekonomi Daerah
“Memang momentum seperti Ramadan dan Lebaran ini harus betul-betul dimanfaatkan, setidaknya akhir tahun lalu ada Natal dan Tahun Baru, lalu Januari - Februari ada Sincia Tahun Baru Imlek. Ini juga menjadi momentum bagaimana kita bisa mendorong pertumbuhan ekonomi Jatim 2026,” ujarnya dalam Media Briefing di Surabaya, Senin (9/2/2026).
Menurutnya, konsumsi rumah tangga yang berkontribusi lebih dari 60ri indikator pertumbuhan ekonomi Jatim ini harus dimanfaatkan. Setelah Lebaran berakhir dan memasuki kuartal II/2026, pemerintah daerah dan swasta juga perlu menciptakan event-event yang kreatif seperti sport tourism dan penguatan kalender wisata internasional di Jatim guna menggairahkan konsumsi rumah tangga maupun sektor investasi.
“Jadi kemudian bagaimana otoritas berempat (BI, OJK, Kemenkeu dan LPS) ini tetap memberikan dukungan insentif dan menciptakan ekosistem bagi dunia usaha agar iklim bisa tetap terjaga,” katanya.
Berkaca pada tahun lalu, Jatim mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,33%. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga, investasi dan net ekspor. Dari sisi penawaran didukung oleh industri pengolahan, pertanian dan akomodasi makan minum.
“Konsumsi rumah tangga ini terutama dari konsumsi ritel (komponen makan minuman) yang tercermin dari tingkat keyakinan konsumen lebih tinggi, dan tingginya transaksi menggunakan kartu ATM debit, tarik tunai dan transaksi non tunai, maupun transfer,” paparnya.
Ibrahim menekankan bahwa meskipun dihantui ketidakpastian global dan fragmentasi ekonomi dunia, Indonesia dan Jawa Timur memiliki daya tahan yang kuat karena didorong oleh konsumsi rumah tangga. Mengingat kekuatan populasi Jatim mencapai 44 juta jiwa.
Sehingga menjaga isi dompet masyarakat adalah prioritas, dan instrumen kuncinya adalah stabilitas harga dengan menjag ainflasi tetap jinak, termasuk bansos merupakan dukungan pemerintah untuk menjaga daya beli pasca penyesuaian subsidi dari 2025.
Baca juga: OJK Beberkan Arah Kebijakan 2026 untuk Perkuat Sektor Keuangan, Apa Saja?
“Secara umum, baik ekonomi nasional maupun regional di Indonesia itu potensial. Kita sebetulnya masih scaring effect, efek luka memar pandemi Covid-19 yang belum sepenuhnya kembali ke range target pertumbuhan,” imbuhnya.
Untuk diketahui, ekonomi dunia masih dalam tren yang melambat dengan ketidakpastian yang perlu diwaspadai. Ekonomi Jepang, Tiongkok, dan India diperkirakan melambat akibat pelemahan permintaan domestik dan ekspor di tengah investasi artificial intelligent (AI) yang meningkat. Sementara ekonomi AS membaik didorong investasi sektor teknologi AI dan pengurangan pajak.
“Ke depan, ketidakpastian ekonomi global diperkirakan tetap tinggi dengan prospek ekonmi dunia yang masih lemah. Ini perlu dimonitor dengan penguatan respons kebijakan untuk memperkuat daya tahan ekonomi domestik,” ujar Ibrahim.
Ibrahim menambahkan, BI sendiri telah berupaya menjaga stabilitas dalam rangka memperkuat pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan menyiapkan bauran kebijakan seperti BI rate tetap 4,75%, suku bunga deposit facility tetap 3,75%, dan suku bunga lending tetap 5,50%.
“BI rate bahkan sudah turun sebanyak 6 kali menjadi 4,7%, lalu ada intervensi di pasar luar negeri dan domestik, penurunan SRBI Rp192,64 triliun, pembelian SBN Rp332,1 triliun, insentif KLM Rp388,1 triliun, dan penyelauran bansos dan elektronifikasi keuangan pemda,” imbuhnya.
Baca juga: Kinerja Penjualan Eceran Kota Surabaya Pada Februari 2026 Diperkirakan Naik
Editor : Peni Widarti