JATIMKMINI.COM, Asri Nugroho Nus Pakurimba atau yang akrab dipanggil Nug, bukan sekadar pelukis. Ia adalah peramu simbol, perakit imaji, sekaligus penafsir spiritualitas yang menyusup lewat sapuan kuas.
Dalam setiap karyanya, ada jejak pergulatan panjang hidup seorang seniman yang pernah bekerja sebagai juru gambar poster bioskop di masa muda, pekerjaan yang menempanya menjadi piawai dalam olah anatomi, detil, dan komposisi.
Baca juga: Dadang Christanto: Akibat Kalah Perang Budaya, Jantung Peradaban Kita Karam
Dari dunia poster layar lebar, dia kemudian beranjak ke kanvas, membangun reputasi sebagai pelukis dengan idiom unik, realisme abstrak.
Kini, pada usianya yang menginjak 73 tahun, Nug menggelar pameran tunggal ke-10 bertajuk “Gathering” di Ballroom Eighty 9, Ciputra World Surabaya, pada 23 Agustus 2025.
Hanya sehari, sebuah pilihan yang dia sebut sebagai bentuk kepraktisan.
"Biasanya pameran ramai di hari pembukaan saja. Jadi kenapa tidak saya padatkan sehari? Lebih hidup, lebih hangat," ujarnya sambil terkekeh.
Daya Tarik Nug
Kekuatan karya-karya Asri Nugroho terletak pada keberanian menempatkan simbol sebagai bahasa utama. Dalam lukisannya, pecahan logam tampil bukan sekadar ornamen, melainkan metafora atas belenggu yang berhasil dipatahkan.
Potongan kaca hadir sebagai simbol kejujuran, transparansi, sesuatu yang tajam sekaligus rapuh. Sementara gelembung-gelembung air yang kerap muncul di kanvasnya, baginya adalah representasi roh kudus, pengingat tentang kesucian dan kehidupan yang terus bergerak.
Baca juga: Semarak HUT Kemerdekaan 80, Judes Pamerkan Foto dan Video
Karya-karyanya merepresentasikan sebuah dunia yang tidak sepenuhnya nyata, namun juga tidak sepenuhnya imajiner. Sebuah wilayah transisi antara realisme dan abstraksi, di mana keindahan dan kritik, estetika dan spiritualitas, berpadu dalam satu tarikan napas.
Dalam pameran ini, 18 lukisan akan dipamerkan. Beberapa menampilkan bumi dengan sentuhan kosmis, tangan-tangan manusia yang menjangkau, seakan hendak merawat atau mengembalikan dunia ke dalam harmoni. Ada pula kanvas yang dipenuhi cabang, logam dan potongan simbolik, membentuk lanskap abstrak yang penuh ketegangan..
Menariknya, Nug tak segan meramu hal-hal yang kasatmata dengan imaji surealis. Seperti dalam salah satu lukisannya, buah-buahan berjatuhan dari langit, melayang di atas bentangan danau tenang. Sebuah paradoks visual, antara kealamian dan ketidakmungkinan yang justru membuat karya-karyanya memikat sekaligus menggugah tafsir personal bagi penonton.
Jejak Paniang
Baca juga: Achmad Dhani Hadir Meriahkan Lomba Fotografi Judes
Karier panjang Asri Nugroho telah membawanya ke lebih dari 60 pameran bersama, baik di dalam maupun luar negeri. Karya-karyanya pernah dipamerkan di museum-museum di Korea Selatan, Jepang, Filipina, Singapura, hingga Tiongkok, bahkan dalam tur keliling negara-negara ASEAN. Prestasinya semakin kuat ketika pada 1994 ia meraih penghargaan bergengsi Phillips Morris Group of Companies - Indonesia Art Awards.
Bagi Nug pencapaian bukan semata tentang prestise. “Melukis adalah pengabdian. Ada sisi spiritual yang selalu saya bawa. Setiap garis, setiap simbol, adalah doa,” ungkap putra seorang pensiunan tentara ini.
Pilihan untuk membuat pameran hanya sehari bukanlah sekadar eksperimentasi format, melainkan cerminan filosofinya: momentum itu penting, yang esensial adalah perjumpaan.
Pada hari itu dia bukan hanya menampilkan karya tetapi juga mengundang teman, sahabat, kolega, dan pecinta seni untuk berkumpul. Membuat seni menjadi pengalaman kolektif bukan sekadar tontonan.
Editor : Ali Topan