JATIMKINI.COM, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berkomitmen mempercepat reformasi pasar modal Indonesia. Sejumlah langkah dilakukan guna memperkuat likuiditas, meningkatkan transparansi, serta menjaga kepercayaan investor.
Pejabat sementara Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi menjelaskan bahwa pihaknya tengah menyiapkan delapan aksi untuk menjadikan pasar modal makin kredibel dan investable.
“Satu dari poin awal adalah dengan menaikkan batas minimum free float emiten menjadi 15 persen. Tentu ini meningkat dari ketentuan saat ini yang sebesar 7,5 persen, dan akan kami lakukan secara bertahap (stages),” katanya.
Untuk perusahaan yang melakukan IPO baru, lanjutnya, bisa langsung ditetapkan 15 persen, sedangkan emiten yang sudah lama, akan diberikan waktu transisi.
Menurut Friderica, saat ini sudah terdapat ketentuan peraturan yang dapat menjadi langkah strategis bagi emiten untuk meningkatkan free float. Antara lain melalui aksi korporasi seperti right issue, HMETD, non-HMETD, serta ESOP dan EMSOP," lanjutnya.
Kategori berikutnya adalah transparansi atas ultimate beneficial owner (UBO) dan penguatan data kepemilikan saham. Ketentuan yang tidak kalah penting adalah tata kelola dan enforcement mencakup tiga rencana aksi, penegakan peraturan dan sanksi, serta penguatan tata kelola emiten melalui kewajiban pendidikan berkelanjutan.
Dua ketentuan berikutnya meliputi pendalaman pasar secara terintegrasi serta penguatan kolaborasi dan sinergi dengan seluruh stakeholder. “Termasuk pemerintah, self regulatory organization, dan pelaku industri, untuk melanjutkan reformasi pasar modal,” imbuhnya.
Sementara itu, Pejabat Sementara Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menegaskan pentingnya kepercayaan investor dalam peningkatan peran pasar modal Indonesia.
“OJK akan terus hadir, bekerja bersama, dan terus bertindak secara nyata untuk menjaga kepercayaan publik. Kami juga akan terus melindungi para investor, serta memastikan pasar modal kita dan seluruh pasar keuangan Indonesia tumbuh sehat,” ujar Hasan.
Pelaksana Tugas Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, menegaskan bahwa pihaknya siap melakukan transparansi terkait percepatan reformasi integritas.
“Rencana kami adalah melakukan pendalaman dari sisi demand khususnya, agar investor lebih banyak asing yang masuk dengan penambahan bobot Indonesia di dalam konstituen,” tegas Jeffrey.
OJK, self regulatory organization (SRO), Bursa Efek Indonesia, Kliring Penjaminan Efek Indonesia, dan Kustodian Sentral Efek Indonesia, berkomitmen melakukan bold and ambitious reforms di pasar modal Indonesia, sesuai best practices dan memenuhi ekspektasi Global Index Provider.
Editor : Rochman Arief