JATIMKINI.COM, Di tengah banyaknya kawasan mangrove yang hilang di Indonesia, seorang pelajar SMP di Surabaya justru menunjukkan kepedulian terhadap kelestarian pesisir. Harley Fatahillah Yodhaloka Sunoto, siswa kelas VIII SMPN 1 Surabaya, berpartisipasi menanam lebih dari 18.200 mangrove.
Tentu ia tidak sendirian. Harley juga menggerakkan komunitas sekolah serta warga pesisir, termasuk Pemerintah Kota Surabaya yang ikut melestarikan lingkungan.
Harley yang menjadi Finalis Pangeran Lingkungan Hidup Tunas Hijau 2025 itu menggagas gerakan konservasi bertajuk Mangrove Warrior. Gerakan ini melibatkan guru, teman sekolah, hingga petani tambak Wonorejo sebagai mitra pelestarian mangrove.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Dedik Irianto, mengapresiasi langkah Harley yang ia nilai mampu memantik kepedulian generasi muda terhadap perubahan iklim dan ancaman kerusakan pesisir.
“Di saat isu lingkungan hanya ramai saat bencana, Harley justru memberi kontribusi besar. Ini bukti, anak muda punya kekuatan besar menjaga bumi,” ujar Dedik, Minggu (7/12/2025).
Dedik menilai inisiatif Harley bukan sekadar kegiatan sekolah, melainkan gerakan yang bisa memberikan dampak besar jika ditiru teman-temannya. “Bayangkan jika ribuan pelajar lain melakukan hal serupa. Efeknya akan luar biasa bagi masa depan lingkungan kita,” lanjutnya.
Harley terdorong setelah menyaksikan banyak pemberitaan penebangan hutan dan abrasi yang mengancam pesisir Indonesia. Baginya, mangrove merupakan “tameng alami” yang mampu meredam gelombang besar, menahan banjir, hingga melindungi pantai dari risiko tsunami.
“Saya ingin Surabaya tetap aman. Selama saya bisa menanam, saya akan terus menanam,” ungkap Harley.
Ia menginisiasi program pembudidayaan mangrove di sekolahnya. Para siswa kini belajar mengenali jenis mangrove, melakukan pembibitan hingga praktik penanaman langsung di pesisir.
Kampus pelajar SMP ini bahkan menarik minat pelajar dari Korea Selatan yang datang untuk belajar konservasi mangrove di Surabaya.
Gerakan Mangrove Warrior juga berkolaborasi dengan Wahana Visi Indonesia dan telah menanam di tiga lokasi yang meliputi Gunung Anyar, Wonorejo, dan Keputih. Hingga kini, enam jenis mangrove berhasil dibudidayakan sesuai karakter tanah dan salinitas wilayah pesisir Surabaya.
Tak hanya fokus pada ekologi, Harley bersama komunitasnya juga mengembangkan enam produk turunan mangrove seperti sirup, kecap, sampo, kondisioner, vitamin rambut, hingga pewarna batik. Upaya ini menjadi model ekonomi kreatif berbasis konservasi.
Dengan dukungan sekolah, komunitas lokal, serta Wahana Visi Indonesia, Harley menargetkan penanaman 25 ribu mangrove sampai akhir 2025 dan 40 ribu mangrove pada pertengahan 2026.
Editor : Rochman Arief