x
x

Ayah Dan Anak Pamer Lukisan Bersama, Momen Langka dan Inspiratif ‎

JATIMKINI.COM, Sebuah peristiwa langka hadir di dunia seni rupa Surabaya. Seorang ayah dan putranya tampil dalam satu pameran bersama, menghadirkan karya-karya yang bukan hanya indah secara visual, tetapi juga sarat nilai budaya, humanisme, dan pendidikan kreatif. 

‎Di Galeri Merah Putih, Balai Pemuda, Balai Pemuda Surabaya, Jawa Timur, kolaborasi antara I Ketut Gede Susila Widiastra (45) dan putranya I Made Daniswara Kenzie Satwika (13) menjadi ruang perjumpaan antara pengalaman, kasih sayang, dan energi kreatif dua generasi. Pameran berlangsung dari tanggal 6 hingga 11 Desember 2025.

‎Pameran ini bukan sekadar ajang memajang karya menjadi bukti bagaimana seni dapat menjadi bahasa pengasuhan, ruang ekspresi, dan wahana pertumbuhan emosional anak.

‎“Pameran lukisan ini lebih dari sekadar peragaan karya seni. Ini adalah wujud nyata dari kasih dan dedikasi seorang ayah, yang dengan tulus memberikan ruang ekspresi, pendampingan, dan dukungan penuh bagi pengembangan bakat dan kreativitas putranya,” tutur Ketut.

Kenzi Menjaga Tradisi

‎Kenzie, yang masih duduk di bangku kelas 1 SMP Citra Berkat Surabaya, mencuri perhatian dengan karyanya berjudul “Legong”. 

‎Pada usia 13 tahun, pilihan temanya bukan hal ringan. Ia memilih menampilkan penari Legong Bali dengan latar sosok barong, dua ikon sakral dalam budaya Bali.

‎Lukisan itu menunjukkan ketertarikannya pada seni tradisi Nusantara. Komposisi panggungnya kuat. Penari ditempatkan pada posisi dominan dengan tangan terbuka membentuk ritme visual. Detil kostum, mahkota emas, dan tekstur bulu barong digarap dengan ketelitian yang jarang ditemukan pada perupa seumurannya.

Potret diri Potret diri

Palet warna merah, emas dan putih menegaskan suasana ritual, sementara tatapan penari yang intens menghadirkan rasa hormat terhadap tradisi. Karya ini membuktikan bahwa Kenzi memiliki keberanian memilih tema dan kemampuan mengolah dramatika budaya menjadi bahasa visual.

‎Deretan rekam jejak pamerannya juga mengesankan. Pafa tahun 2024  mengikuti beberapa pameran bersama. Kenzi memperlihatkan bakat yang masih akan berkembang, sembari memperkuat pesan bahwa generasi muda dapat menjadi penjaga tradisi melalui seni.

Putut Pilih Humanisme

‎Berbeda dengan anaknya, Ketut Gede Susila — akrab disapa Putut — menghadirkan karya dengan tema humanis dan nostalgia dalam lukisan “Radio”. 

‎Karya ini menangkap momen keseharian masyarakat tradisional yang berkumpul di ruang sederhana, menyimak siaran radio tua di tengah sinar matahari yang menembus celah-celah ruang.

‎Komposisi berbentuk lingkaran semi tertutup menunjukkan kedekatan dan komunalitas, sementara cahaya yang jatuh pada pusat meja menjadi metafora tentang pengetahuan yang membangun ruang kebersamaan. 

‎Setiap tokoh digambarkan dalam gestur natural, tertawa, menikmati cerita juga  berbagi momen. Putut menghidupkan suasana ruang pedesaan lengkap dengan lentera, keranjang, sepeda, hingga anyaman bambu. Detail ini menunjukkan kepekaannya terhadap realitas sosial dan ingatan kolektif masyarakat tradisional.

‎Palet warna hangat yang ia gunakan memperkuat kesan intim, menjadikan “Radio” bukan hanya dokumentasi visual, tetapi kritik halus tentang hilangnya ruang interaksi tradisional dalam era digital yang penuh distraksi. 

‎Putut seperti mengingatkan bahwa radio pernah menjadi pusat peristiwa yang mempersatukan keluarga dan tetangga. Sebuah nilai yang mulai memudar hari ini. Pada tahun 2024 dan 2025, Putut mengikuti beberapa pameran bersama.

Pertemuan Dua Generasi

‎Menariknya, karya Putut dan Kenzi berdiri pada dua kutub estetika yang berbeda tetapi saling melengkapi. Putut mengangkat memoria sosial, sementara Kenzi merawat keunikan tradisi Bali melalui semangat muda yang segar.

‎Di tengah modernisasi dan gempuran teknologi, pameran ini menghadirkan pesan yang kuat, bahwa kesenian merupakan ruang aman bagi keluarga untuk bertumbuh bersama, berdialog, dan saling menginspirasi.

‎Kolaborasi ayah anak ini bukan hanya produk kreativitas, tetapi sebuah teladan. Bahwa ketika dukungan keluarga diberikan sepenuhnya, anak mampu menemukan jalur ekspresinya. Dan, orang tua dapat melihat bagaimana warisan nilai ditumbuhkan kembali melalui mata generasi muda.

‎Di Galeri Merah Putih Surabaya, keduanya tidak sekadar memamerkan lukisan, mereka memamerkan kisah, kebersamaan, dan masa depan seni rupa yang tetap terhubung dengan akar budaya.

‎‎

Berita Terbaru
Sabtu, 06 Des 2025 13:45 WIB

PLN Pulihkan 100% Listrik Sumatra Barat Pascabencana Banjir dan Longsor

PT PLN (Persero) berhasil memulihkan sistem kelistrikan Sumatra Barat pascabencana banjir dan tanah longsor yang terjadi akhir November lalu.
Jumat, 05 Des 2025 20:55 WIB

JNE Gratiskan Ongkir Bantuan ke Aceh, Sumbar, Sumut, dan Sekitarnya

JATIMKINI.COM, JNE mengajak seluruh masyarakat untuk Bergerak Bersama membantu saudara – saudara kita yang terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), S
Jumat, 05 Des 2025 20:47 WIB

PLN Jatim Kerahkan 33 Personel untuk Percepatan Pemulihan Listrik di Aceh

PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur kirim personel untuk membantu percepatan pemulihan kelistrikan pasca banjir dan tanah longsor di Aceh.
Jumat, 05 Des 2025 19:47 WIB

Mandiri Livin Fest Surabaya 2025 Siap Mengakselerasi Perekonomian di Jatim

JATIMKINI.COM, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk berencana menggelar ajang kolaborasi UMKM, kreatif dan solusi financial bertajuk Livin Fest 2025 di Grand City
Jumat, 05 Des 2025 14:12 WIB

Jelang Natal, Harga Cabai Rawit di Jatim Melambung Hampir Rp100.000 Per Kg

JATIMKINI.COM, Sejumlah bahan pokok makanan di wilayah Jawa Timur mengalami kenaikan, salah satunya komoditas cabai rawit yang harganya melambung mencapai
Jumat, 05 Des 2025 11:35 WIB

Dilema UMKM Kue Rumahan Gunakan Tepung Beras Lokal

Para pelaku industri kue rumahan di Kampung Rungkut Lor, Surabaya, Jawa Timur kini mengalami dilema, karena sedang berusaha mencari alternatif bahan baku