JATIMKINI.COM, Bank Indonesia (BI) menyiapkan 6 inisiatif strategis untuk memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan syariah (eksyar). Langkah ini dilakukan agar potensi pasar syariah yang besar bisa dioptimalkan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru Indonesia.
Adapun 6 inisiatif tersebut di antaranya, Gerbang Santri: Meningkatkan produktivitas dan tata kelola usaha pesantren melalui digitalisasi, termasuk pengembangan industri air minum dan greenhouse berbasis IoT.
Baca juga: BI Hadirkan Gerai CERDAS PeKA di Kampus, Bentengi Mahasiswa dari Risiko Transaksi Digital
Jawara Ekspor: Mendorong pelaku usaha syariah memperkuat produk dan kapasitas agar mampu menembus pasar internasional.
Di susul Penguatan Ekosistem Halal: Melalui kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, lembaga keuangan, pesantren, dan masyarakat, seiring penerapan kewajiban sertifikasi halal pada Oktober 2026. Sapa Syariah: Mempertemukan aktivitas perdagangan dengan akses pembiayaan syariah.
Serta Kanal Ziswaf: Mengoptimalkan zakat, infak, sedekah, dan wakaf bagi pemberdayaan ekonomi. Potensi wakaf uang berdasarkan Badan Wakaf Indonesia mencapai Rp180 triliun per tahun, sementara realisasi akumulasi baru sekitar Rp4 triliun. Terakhir, Lentera Emas: Penguatan literasi, inklusi, edukasi, digitalisasi, dan kapasitas SDM.
Deputi Direktur Kantor Perwakilan BI Jawa Timur, Yono Haryono mengatakan, Indonesia sebenarnya memiliki modal kuat untuk mengembangkan ekonomi syariah, meski sejumlah sektor masih perlu diperkuat untuk meningkatkan daya saing di tingkat global.
"Indonesia memiliki modal yang kuat dalam pengembangan ekonomi syariah, namun masih ada sejumlah sektor yang perlu diperkuat agar daya saing kita semakin tinggi dan kontribusinya terhadap ekonomi syariah global semakin besar," kata Yono dalam kegiatan Capacity Building Pengembangan Eksyar di Surakarta, Jawa Tengah, Senin, (5/10/2026).
Baca juga: FESyar Jawa 2026 Resmi Ditutup, Catat Transaksi Rp88 Miliar & Perkuat Sinergi Ekonomi Syariah
Yono berharap 6 inisiatif tersebut mampu memperluas partisipasi masyarakat sekaligus mengubah besarnya potensi ekonomi syariah menjadi aktivitas ekonomi yang produktif dan berkelanjutan.
Menurutnya, potensi itu tercermin dari posisi Indonesia yang berada di peringkat keempat pengembangan ekonomi syariah global berdasarkan State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report.
Konsumsi sektor ekonomi syariah dunia mencapai sekitar US$2,60 triliun pada 2024 dan aset keuangan syariah sekitar US$9,72 triliun. Sementara Indonesia unggul di sektor modest fashion yang menempati peringkat pertama global dan halal food peringkat keempat.
Namun, ada pekerjaan rumah. Di sektor muslim-friendly tourism, peringkat Indonesia turun dari posisi kedua menjadi keenam. Begitu juga halal pharma and cosmetics yang turun dari peringkat kedua menjadi keempat.
Baca juga: FESyar Jawa 2026 : 3 Pembaruan Prorgam, dari Pasar Halal Hingga Rumah untuk Guru Pesantren
Editor : Peni Widarti