Muharram Green Tanamkan Edukasi Anak-anak Sidoarjo dengan Pilah Sampah

Reporter : Rochman Arief
Kader Muda Kampung Edukasi Sampah mengajarkan kepedulian lingkungan kepada sejumlah anak-anak yatim dengan konsep Green Muharram. (Foto: dok.KES)

JATIMKINI.COM, Bulan Muharram menjadi momentum menanamkan nilai kepedulian terhadap lingkungan. Semangat tersebut diwujudkan melalui kegiatan Muharram Green Action – Edu Aksi Pilah Sampah yang digelar di Kampung Edukasi Sampah (KES), Sekardangan, Sidoarjo.

Kegiatan ini merangkul sejumlah komunitas yang meliputi Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) dan Lembaga Manajemen Infaq (LMI).

Baca juga: Bukan Sekadar Kurban, Pengasuh Ponpes Mukmin Mandiri Ungkap Rahasia Iduladha

Di kegiatan yang berlansung, Minggu (28/6/2026), melibatkan 30 anak yatim tingkat SD dan SMP. Ajang ini memadukan santunan dengan edukasi lingkungan. Berbeda dari kegiatan sosial pada umumnya, para peserta diajak belajar mengenai pengelolaan sampah melalui pendekatan yang menyenangkan dan interaktif.

Anak-anak dikenalkan cara memilah sampah organik, anorganik, B3, dan residu. Mereka juga mempraktikkan pengolahan sampah organik menggunakan metode takakura dan komposter aerob sebagai solusi sederhana mengurangi sampah rumah tangga.

Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari peserta Muharram Green Action. Salah satunya adalah Elvan Zahim Muslim. Ia mengaku senang selama mengikuti kegiatan bersama Kader Muda Lingkungan Kampung Edukasi Sampah.

“Saya baru tahu kalau sampah harus dipilah dan ternyata membuat kompos itu tidak sulit. Sepulang nanti saya ingin mulai memilah sampah di rumah, supaya lingkungan lebih bersih,” ujarnya.

Marketing and Partnership Director Laznas LMI, Ozy Riyanto, mengatakan bahwa Muharram merupakan waktu yang tepat untuk menanamkan nilai kepedulian dan tanggung jawab kepada generasi muda.

Baca juga: HPN 2026, PWI Beri Penghargaan Tokoh Inspiratif dan Karya Berdampak

“Kami ingin anak-anak tidak hanya menerima santunan, tetapi juga memperoleh bekal pengetahuan dan kepedulian terhadap lingkungan,” ujar Ozy. 

Ia menambahkan kolaborasi semacam ini menunjukkan kepedulian sosial dan lingkungan dapat berjalan beriringan. Setidaknya untuk membentuk generasi yang berkarakter.

Koordinator Kader Muda Lingkungan Kampung Edukasi Sampah, Adissya Elma Fitriyah, menambahkan bahwa pembelajaran lingkungan akan lebih efektif ketika dilakukan melalui pengalaman implementatif.

Sementara itu, Pegiat Lingkungan Kampung Edukasi Sampah, Edi Priyanto, menegaskan bahwa perubahan perilaku tidak cukup dibangun melalui ceramah. Perubahan perilaku bisa dilakukan melalui pengalaman yang menyenangkan dan berkesan.

Baca juga: Kampung Edukasi Sampah Sidoarjo Jadi Rujukan Smart Environment Malaysia

“Anak-anak adalah agen perubahan. Ketika mereka belajar, mencoba, lalu merasakan sendiri manfaat menjaga lingkungan, pesan tersebut akan mereka bawa pulang kepada untuk disampaikan kepada keluarga atau lingkungan,” jelas Edi.

Menurutnya, metode ini merupakan semangat yang ia bangun di Kampung Edukasi Sampah. Yakni menghubungkan aksi sosial, edukasi lingkungan, dan kolaborasi berbagai pihak untuk menciptakan dampak yang berkelanjutan.

Kegiatan ini menjadi implementasi penguatan green human capital dan green social capital, yaitu membangun masyarakat yang memiliki pengetahuan, keterampilan, kepedulian, serta budaya gotong royong dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Editor : Rochman Arief

Ekonomi
Berita Populer
Berita Terbaru