JATIMKINI.COM, Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat atau IOH) bersama Twimbit, perusahaan riset dan konsultasi terkemuka meluncurkan Empowering Indonesia Report 2025 bertema ‘Building Bridges of Tomorrow’ yang menegaskan pentingnya sovereign AI atau AI berdaulat sebagai fondasi utama pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.
Setidaknya ada 5 pilar utama kedaulatan AI yakni infrastruktur digital, tenaga kerja berkelanjutan, industri inovatif, riset unggul, serta regulasi dan etika yang kokoh.
Baca juga: Siapkan Pulsa Grosir, Indosat Beri Peluang Usaha Baru Bagi Pedagang Lokal
Jika dijalankan secara strategis, adopsi AI berdaulat berpotensi menambah hingga US$140 miliar terhadap PDB Indonesia pada 2030, dan akan mendorong pertumbuhan ekonomi tahunan hingga 6,8%, serta mempercepat pencapaian status negara berpenghasilan tinggi ke 2041—atau bahkan 2038 dalam skenario terbaik.
Selain itu, AI juga dapat mendorong peningkatan produktivitas hingga 18% di sektor jasa, 15%–20% di manufaktur, dan 5–8% di pertanian, menjadikannya faktor utama dalam memperkuat daya saing dan efisiensi nasional.
Dalam peluncuran Laporan ini, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital RI, Nezar Patria mengatakan AI bukan hanya soal teknologi, tetapi tentang kemandirian bangsa.
“Kedaulatan AI berarti kita membangun teknologi yang merefleksikan nilai-nilai Pancasila, menjamin etika dan keamanan, serta memastikan manfaatnya dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat,” katanya dalam siaran pers, Sabtu (29/11/2025).
Dari sisi kesiapan infrastruktur, laporan ini mencatat bahwa Indonesia membutuhkan investasi sebesar US$3,2 miliar hingga 2030 untuk memenuhi kebutuhan komputasi nasional.
Saat ini, AI data center di Indonesia baru mencakup kurang dari 1ri pasar global, menandakan perlunya percepatan pembangunan pusat data bertenaga energi terbarukan dan jaringan 5G yang lebih luas.
Baca juga: Mahasiswa Petra Christian University Tampilkan 8 Karya Inovasi Berbasis AI dan IoT
Empowering Indonesia Report 2025 juga menyoroti kebutuhan pengembangan 400.000 talenta AI pada 2030, dengan investasi sebesar USD 968 juta untuk pendidikan, pelatihan, dan reskilling tenaga kerja.
Indonesia saat ini memiliki 364 startup AI dengan total pendanaan mencapai US$1,08 miliar, serta inisiatif riset nasional seperti Sahabat-AI V2, Large Language Model (LLM) berparameter 70 miliar yang mendukung bahasa Indonesia dan bahasa daerah seperti Jawa, Sunda, Bali, dan Batak. Inovasi lokal ini menjadi bukti bahwa Indonesia mulai beralih dari pengguna menjadi pembentuk teknologi AI global.
Founder and CEO Twimbit, Manoj Menon menambahkan, Indonesia memiliki posisi strategis untuk memimpin di era AI berdaulat. Dengan membangun fondasi digital yang kuat dan menciptakan ekosistem yang inklusif, Indonesia dapat menjadi pusat pertumbuhan AI di Asia.
“Sekaligus mempercepat pencapaian visi Indonesia Emas 2045,” katanya.
Baca juga: INSPIRE Career Week 2025 : Indosat Bekali Talenta Muda Hadapi Era Digital di UNAIR
President Director and CEO Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha menegaskan bahwa Indosat memiliki perannya sebagai mitra bangsa dalam mempercepat kedaulatan digital dan transformasi AI nasional. Menurutnya, kedaulatan AI bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang membangun masa depan yang dimiliki dan dikendalikan oleh Indonesia sendiri.
“Melalui kolaborasi strategis dan inovasi berkelanjutan, kami berkomitmen menghadirkan konektivitas yang inklusif dan solusi AI yang beretika untuk memberdayakan setiap lapisan masyarakat menuju Indonesia Emas 2045,” imbuhnya.
Editor : Peni Widarti