IDAI Ingatkan Ancaman Penyakit Jantung Reumatik pada Anak

Reporter : Rochman Arief
IDAI mendesak pemerintah mewaspadai PJR dan DR yang kerap memicu kematian pada anak. (Foto:dok.IDAI)

JATIMKINi.COM, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai demam reumatik (DR) dan penyakit jantung reumatik (PJR) yang masih menjadi ancaman serius bagi anak-anak di Indonesia. 

Penyakit ini berawal dari infeksi tenggorokan yang tidak diobati dengan benar dan bisa menyebabkan kerusakan katup jantung permanen.

Baca juga: IDAI Tekankan Kesehatan Anak dan Krisis Lingkungan di PIT Ke-13 Ilmu Kesehatan Anak

Ketua Umum IDAI Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A (K) mengatakan, PJR merupakan penyebab paling umum penyakit jantung. Umunya terjadi pada anak dan remaja di negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Kesadaran masyarakat terhadap bahaya infeksi tenggorokan streptokokus masih rendah. Banyak anak datang ke rumah sakit ketika kerusakan katup jantung sudah parah,” ujarnya, Senin (11/11/2025).

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Kardiologi IDAI Dr. Rizky Adriansyah, M.Ked(Ped), Sp.A, Subsp.Kardio(K) menjelaskan, demam reumatik adalah reaksi imun tubuh yang muncul 1–5 minggu setelah infeksi tenggorokan akibat bakteri streptococcus Grup A. 

Jika tidak mendapat penangnan, penyakit ini berkembang menjadi PJR yang menyebabkan kerusakan katup jantung menetap.

Gejala yang perlu diwaspadai antara lain nyeri sendi berpindah-pindah, ruam berbentuk lingkaran, sesak napas, jantung berdebar, bengkak pada tungkai, dan gerakan tubuh tak terkendali seperti “menari”.

Data IDAI menunjukkan Indonesia termasuk negara endemis PJR dengan angka kematian 4,8 per 100.000 penduduk. Angka ini lebih tinggi dari malaria (3 per 100.000). 

Hasil riset tahun 2018 mencatat hanya enam dari sepuluh anak yang bertahan hidup setelah delapan tahun terdiagnosis PJR. Sebanyak empat dari sepuluh anak mengalami kerusakan katup jantung yang semakin berat.

Menurut dr. Rizky, tantangan utama penanganan PJR adalah rendahnya deteksi dini, ketidakpatuhan terhadap pengobatan, serta kelangkaan obat benzatin penisilin-G (BPG) yang merupakan antibiotik utama untuk pencegahan sekunder. 

“BPG harus disuntik setiap 3–4 minggu untuk mencegah kekambuhan, tapi ketersediaannya di rumah sakit sering terbatas,” katanya.

IDAI menegaskan, pencegahan merupakan langkah paling efektif. Pencegahan primer dilakukan dengan mengobati infeksi tenggorokan secara tuntas, menjaga kebersihan diri, tidak berbagi alat makan, serta memperbaiki ventilasi rumah dan sekolah.

Sedangkan pencegahan sekunder dilakukan bagi anak yang sudah terdiagnosis DR atau PJR melalui suntikan BPG secara rutin selama lima tahun atau hingga usia 21 tahun, tergantung tingkat keparahan penyakit.

“Dengan sistem rujuk balik yang baik, pemberian BPG bisa dilakukan di rumah sakit maupun puskesmas daerah,” ujar dr. Rizky.

IDAI juga meminta dukungan pemerintah dalam pengadaan BPG di semua fasilitas kesehatan, serta pelaksanaan program skrining dan registri nasional untuk DR dan PJR.

Data WASHActs 2025 menunjukkan 1,5 juta anak di Indonesia belum memiliki akses cuci tangan dengan sabun di sekolah, dan 58 persen sekolah belum memiliki sanitasi dasar. Kondisi itu meningkatkan risiko penyebaran infeksi tenggorokan.

“Mari bersama-sama menjadi bagian dari Sehatkan Jantung Anak Indonesia, Selamatkan Penerus Bangsa,” kata dr. Piprim. IDAI berharap melalui kolaborasi tenaga medis, pemerintah, dan masyarakat, angka kejadian Penyakit Jantung Reumatik pada anak bisa ditekan.

Editor : Rochman Arief

Ekonomi
Berita Populer
Berita Terbaru