Imung Mulyanto: Identitas, Refleksi Diri, dan Catatan Perjalanan Yang Memikat

Reporter : M.Saifudin Efendi
Bagi Imung Mulyanto puisi bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah identitas personal dan sarana mencatat kegelisahan serta perjalanan hidup ( Foto : M. Syaifudin / Jatimkini.com )

JATIMKINI.COM, Dunia jurnalistik yang lekat dengan tuntutan fakta dan objektivitas ternyata tidak meredupkan nyala ekspresi Imung Mulyanto dalam dunia sastra. Baginya, puisi bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah identitas personal dan sarana mencatat kegelisahan serta perjalanan hidup. Hal itu diungkapkan  Imung Mulyanto dalam acara peluncuran buku bertajuk " Wong Katrok Merambah Media " di surabaya, Jumat (3/10/2025)


"Bagi saya, puisi menunjukkan identitas personal. Inilah saya, perasaan saya, ekspresi saya, catatan kegelisahan saya," ujar Imung Mulyanto

Baca juga: Perjalanan 'Nunung' Lembah Setyowati, Dari Politisi Hingga Van Gogh Indonesia


Imung Mulyanto mengungkapkan, bahwa menulis puisi adalah proses menemukan kemerdekaan berekspresi sejati. 

Ia menekankan, karya-karyanya lahir dari motif yang benar-benar mengusik hati nurani dan "amanah rasa," tanpa adanya titipan pesan atau kejaran deadline.

Perjalanan Hidup Dalam Diksi Yang Puitis

Dosen STIKOSA-AWS, Zaenal Arifin Emka  menilai , bahwa puisi-puisi Imung merupakan cerminan utuh dari perjalanan hidup yang ia jalani. 


Menurut Zaenal, Imung berupaya berkisah tentang perjalanannya baik dengan nada riang maupun tangis dalam upaya berbagi makna dan hikmah.


"Ia sadar bahwa perjalanan Panjang dari alam ruh, rahim, dunia, barzakh, kiamat, hingga hari perhitungan akan dilaluinya," tutur Zaenal.


 Kesadaran inilah yang mendorong Imung untuk terus bermuhasabah atau mengaudit diri, sebuah upaya mencari jawaban dan kepastian apakah tugas dan kewajibannya sebagai hamba telah tertunaikan sempurna. 
"Ia tampaknya butuh jawaban yang melegakan, ingin menerima catatan amalnya dengan tangan kanan," tambahnya.


 "Maka, kebanyakan fakir seperti saya, bahkan sampai ajal menjemput, tak pernah cukup waktu menunaikan seabrek tugas sebagai insan,” ucap  Zaenal yang menyentil diri sendiri ini.

Baca juga: Lukisan Bunga Jadi Bahasa Kehidupan Juni Soekendar


Jurnalistik Justru Memperkaya Sastra


Pandangan umum di kalangan reporter, yang sering menyebut "jika penyair terjun ke dunia jurnalistik, maka karya sastranya bisa rusak," dipatahkan oleh pengalaman Imung. Dunia jurnalistik yang anti opini dan bahasa bersayap dikhawatirkan akan mematikan keindahan puitis.
Namun, menurut Adriono, penulis sekaligus editor produktif, pengalaman Imung sebagai wartawan justru menjadi nilai tambah yang memperkaya puisinya.
"Karya-karya Imung berbeda dari segi tema, diksi, sudut pandang, dan kedalaman. Buku ini menunjukkan betapa bervariasinya tema yang ia angkat serta ragam gaya ungkapnya," ujar Direktur Pendar Asa Komunika Adriono.

Adriono menyebutkan  beberapa karya puisi perjalanan Imung yang dianggapnya memikat, seperti Meru Betiri, Telaga Kastoba, Santerra de Laponte, dan Sangkala Buana.

 "Rasa sastranya masih pekat. Pilihan katanya indah, tetapi tidak berlebihan," tegasnya


Salah satu puisi yang menonjol adalah Telaga Kastoba, yang merefleksikan kunjungan ke Pulau Bawean. Puisi tersebut ditutup dengan larik  atau kalimat yang mendalam:

Baca juga: Juni Soekendar, Melanjutkan Hidup, Berbahasa Dengan Bunga

"Kepintaran kadang memporakporandakan Biarlah Cara Purba yang Menjaganya."

Hal ini menunjukkan bahwa di balik identitasnya sebagai jurnalis, Imung Mulyanto berhasil mempertahankan dan bahkan memperdalam kekuatan puisinya sebagai medium refleksi dan pencatatan perjalanan spiritual dan geografis yang otentik.

 

 

Editor : Ali Topan

Ekonomi
Berita Populer
Berita Terbaru