OJK dan BI Ungkap Resep Pertumbuhan Ekonomi Jatim di Tengah Gejolak Global

Reporter : Rochman Arief
OJK bersama BI, LPS, dan Kemenkeu menyebut prospek perekonomian Jatim masih kokoh yang ditandai dengan sejumlah indikator. (Foto: Rochman Arief/jatimkini.com)

JATIMKINI.COM, Di tengah pusaran ketidakpastian global—mulai dari tensi perdagangan hingga gejolak geopolitik—perekonomian Jawa Timur justru melaju dengan laju yang cukup mantap. Pada triwulan kedua 2025, pertumbuhan ekonomi provinsi ini tercatat 5,23 persen, melampaui capaian nasional yang berada di angka 5,12 persen.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Timur, Yunita Linda Sari, menyebut kinerja sektor jasa keuangan menjadi salah satu penopang. “Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) maupun penyaluran kredit masih tumbuh positif,” kata Yunita dalam media briefing bertema Sinergi dan Kolaborasi untuk Menjaga Stabilitas dan Mengakselerasi Pertumbuhan Ekonomi di Kantor OJK Surabaya, Kamis (14/8/2025).

Baca juga: Rakerkonas Apindo 2025: Menyatukan Kekuatan Dunia Usaha untuk Indonesia Emas

Hingga Juni 2025, intermediasi perbankan tetap bergerak naik: kredit tumbuh 5,46 persen, DPK 3,48 persen. Dari sisi kesehatan, permodalan perbankan tergolong sangat kuat dengan rasio kecukupan modal (CAR) 30,47 persen.

Risiko kredit pun terkendali, tercermin dari rasio kredit bermasalah (NPL gross) 3,58 persen. Likuiditas, diukur dari rasio AL/DPK dan AL/NCD, masih berada di atas ambang batas aman.

Sebagian besar penyaluran kredit perbankan Jatim masih berorientasi pada modal kerja. Berdasarkan kategori usaha, porsi terbesar masih didominasi non-UMKM. Sementara itu, Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang tersalur sudah mencapai Rp66,73 triliun.

Baca juga: RCEO BRI Region 12 Surabaya Selaraskan Sinergi dengan OJK Jatim 

Tidak hanya lewat perbankan, peran pasar modal juga terlihat. Dana hasil penawaran umum—baik saham maupun obligasi—mencapai Rp14,7 triliun, dengan 55 emiten aktif dan 30 calon emiten yang masih dibina di IDX Incubator.

Menurut Yunita, OJK tidak sekadar menjadi “wasit” yang mencatat angka-angka. Lembaga ini juga menggerakkan ekonomi daerah lewat optimalisasi peran 38 Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) kabupaten/kota serta satu TPAKD tingkat provinsi, untuk mendorong literasi dan inklusi keuangan.

Namun, fondasi kuat sektor keuangan ini tetap berhadapan dengan risiko eksternal. Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Timur, M Noor Nugroho, mengakui tekanan terhadap rupiah mulai mereda. “Dampaknya, tekanan ke ekonomi Indonesia secara umum juga mengendur,” ujarnya.

Baca juga: Bandara Juanda Dipercaya Layani Dua Penerbangan Anyar, ke Mana Saja?

Secara nasional, pertumbuhan ekonomi triwulan kedua berada di angka 5,12 persen—naik dari 4,87 persen pada triwulan sebelumnya. Jawa Timur tumbuh sedikit lebih tinggi, didorong investasi dan lonjakan ekspor. Salah satu pendorongnya: Amerika Serikat belum menetapkan tarif impor baru, yang membuat permintaan terhadap produk ekspor Jatim tetap tinggi.

Bagi Jawa Timur, capaian ini adalah penegasan bahwa ketahanan ekonomi daerah tak hanya bergantung pada arus modal dan perdagangan, tetapi juga pada kemampuan menjaga stabilitas sektor keuangan di tengah badai global yang tak kunjung reda.

Editor : Rochman Arief

Ekonomi
Berita Populer
Berita Terbaru