Tepat ketika rakyat bersiap menyambut perayaan Hari Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia, muncul sehelai kain bergambar tengkorak bertopi jerami, melambai-lambai di tiang rumah warga. Bukan karena Indonesia sedang diserbu bajak laut tapi karena rakyatnya mulai mencari pemimpin alternatif, Monkey D. Luffy.
Di bawah rezim Prabowo yang belum genap setahun berkuasa, rakyat yang awalnya berharap bisa menghirup napas lega justru makin megap-megap. Janji-janji kampanye laksana mantra yang tak kunjung mengubah realita. Rakyat menunggu harga sembako turun tetapi yang datang justru grafik keuntungan BUMN yang menanjak seperti roket, hanya saja, semua itu tidak pernah mendarat di dapur rakyat.
Baca juga: PHK dan Awan Gelap Kemiskinan
Triliunan rupiah dari hilirisasi, puluhan koruptor kelas kakap digulung, harta sitaan negara bertumpuk lalu menguap entah kemana?. Rakyat hanya bisa bertanya, "Kemana larinya uang sebanyak itu?" Karena yang terasa di toko-toko kecil harga sembako naik, minyak goreng dan beragam bumbu bikin pusing kepala.
Ketika rakyat ingin bicara, yang ada hanyalah siaran pidato panjang Presiden yang lebih banyak membanggakan angka makro ekonomi, sementara mikro realita rakyat justru semakin remuk.
Maka muncullah bendera One Piece. Bukan sebagai ancaman makar tapi sebagai bentuk satire paling lirih, “Kami sudah tidak tau lagi harus berharap pada siapa, jadi kami pasrahkan nasib kami pada bajak laut, meski fiksi.”
Seperti biasa, pemerintah lebih cepat menindak simbol daripada menyelesaikan sebab. Bendera One Piece dikibarkan? Segera keluarlah ancaman pidana lima tahun dan denda setengah miliar rupiah. Tapi koruptor kelas berat? Banyak yang malah dapat sambutan bak pahlawan demit.
Sementara elite berseteru soal bendera bajak laut, rakyat sibuk menyusun strategi bertahan hidup. Ini bukan persoalan hukum semata, ini adalah jeritan rakyat yang bosan didengarkan lalu ditertawakan.
Bendera One Piece bisa saja diturunkan paksa. Tapi rasa frustrasi dan kehilangan kepercayaan itu tak bisa disita, apalagi dikandangkan. Jika pemerintah masih menganggap kritik sebagai provokasi maka jangan salahkan rakyat jika suatu hari benar-benar memilih Luffy dalam pemilu.
Baca juga: Abolisi dan Amnesti Era Prabowo
Karena dalam dunia bajak laut fiksi, setidaknya para pemimpinnya berani melawan ketidakadilan, bukan sekadar berkoar tentang "kesejahteraan" sambil menambah beban pajak.
Selamat ulang tahun Indonesia. Semoga benderamu tetap merah putih, bukan kelabu seperti harapan rakyat pada Prabowo.
Penulis : Rokimdakas
Baca juga: Terjebak Merasa Benar
Wartawan & Penulis
Kanal Kolom adalah halaman khusus layanan bagi masyarakat umum, Politikus, pengamat, mahasiswa, pengusaha, organisasi serta lainnya untuk menulis berita lepas.
Redaksi Jatimkini.com tidak bertanggungjawab atas tulisan tersebut
Editor : Redaksi