Rojali-Rohana Mengguncang di Sektor Ritel” Ada Apa

Reporter : Adi Cahyono
Ilustrasi salah satu pengunjung di pusat perbelanjaan di Surabaya ( Foto : Jatimkini.com )

JATIMKINI.COM,  Pusat perbelanjaan tampak kembali ramai. Namun di balik keramaian itu, para pelaku usaha ritel menghadapi kenyataan pahit. Pasalnya,  omzet tidak sejalan dengan jumlah pengunjung. Fenomena ini dikenal luas sebagai 'Rojali-Rohana', singkatan dari Rombongan Jarang Beli dan Rombongan 

Hanya Nanya.

Baca juga: 393 Buruh Pabrik Rokok di Bojonegoro Dapat BLT Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, menyatakan bahwa pergerakan pengunjung ke mal memang sudah pulih pasca-pandemi.

Namun, ia menegaskan,  bahwa tingginya kunjungan tidak serta merta menghasilkan transaksi yang signifikan. 

"Konsumen banyak yang datang, tapi belanja tidak seperti dulu. Banyak yang hanya bertanya-tanya atau sekadar melihat-lihat," ujar Alphonzus dalam kutipan di media beberapa hari lalu

Perubahan Pola Konsumsi
Fenomena ini, menurut para analis, mencerminkan penurunan daya beli dan pergeseran orientasi belanja, terutama dari kelas menengah ke bawah. Bahkan kelas menengah atas kini lebih memilih berinvestasi ketimbang mengonsumsi barang sekunder atau tersier.

“Kalangan berpenghasilan tinggi justru makin berhati-hati. Mereka mulai masuk ke instrumen investasi seperti surat berharga negara, emas, dan deposito,” ujar Kepala Ekonom BCA, David Sumual.

Ia membandingkan kondisi saat ini dengan krisis 1998, meskipun penyebab dan dampaknya berbeda.

Baca juga: Gubernur Jatim Ajak Kepala Daerah Untuk Sosialisasikan Regsosek Pada Masyarakat. Alasannya Begini..

Data dan Proyeksi Ekonomi
Berdasarkan pengamatan APPBI dan data kuantitatif awal 2025,  dari indikator Ekonomi serta Tren saat ini menunjukan: kunjungang ke pusat belanja meningkat (10-15%), Transaksi ritel turun 8-12% dibanding tahun lalu, Konsumsi rumah tangga semester 1 2025 hanya tumbuh 4,5ri target 5,3%, Pembelian barang mewah lesu, turun hingga 20%. Salah satu penyebab utama adalah kenaikan harga kebutuhan pokok, inflasi jasa, serta pelemahan nilai tukar yang berimbas pada biaya impor barang-barang konsumsi.
Respons & Rekomendasi.

Untuk mengatasi stagnasi ini, APPBI mendorong pemerintah memberikan stimulus tunai seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang dapat langsung mendorong konsumsi. Namun, mereka juga mewanti-wanti soal potensi penyalahgunaan dana BLT, termasuk meningkatnya transaksi pada situs judi daring.

“Stimulus fiskal diperlukan, tapi harus diawasi dengan baik,” tegas Alphonzus. Ia juga menyarankan pengusaha untuk mengganti strategi pemasaran: dengan paket bundling, promo dadakan, hingga kolaborasi live shopping dengan influencer.

Harapan di Semester II

Meski kondisi masih lesu, para analis tetap optimistis. David Sumual memperkirakan semester II 2025 akan menunjukkan perbaikan, seiring meredanya ketegangan geopolitik global  sebagai factor eksternal seperti tarif Trump dan meningkatnya belanja pemerintah.

“Kuncinya ada di stabilitas dan ekspektasi konsumen. Kalau keyakinan masyarakat membaik, konsumsi akan bergerak naik,” pungkas David.

Dikutip berbagai sumber 

Editor : Ali Topan

Ekonomi
Berita Populer
Berita Terbaru