Budidaya ikan kerapu di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, terus bertransformasi melalui penerapan teknologi digital. Kampung Kerapu Brondong kini memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT) dan aerator Venjet untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi budidaya, sekaligus kualitas hasil panen. Imbasnya, hasil panen menembus pasar ekspor.
Bupati Lamongan Yuhronur Efendi akrab disapa Pak Yes mengatakan, modernisasi menjadi langkah penting untuk memperkuat daya saing sektor perikanan daerah.
Baca juga: Amankan Swasembada Pangan, Bupati Lamongan Salurkan Alsintan dan Sarana Irigasi
"Perikanan Lamongan harus terus berkembang melalui modernisasi. Pemanfaatan teknologi ini kami dorong agar produktivitas meningkat, budidaya semakin efisien, dan kesejahteraan pembudidaya ikut terangkat," ujar Pak Yes saat meninjau penerapan teknologi di Kampung Kerapu Brondong, Rabu (22/7).
Teknologi tersebut mulai diterapkan sejak dua bulan lalu melalui bantuan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang berkolaborasi dengan PT Venambak Kail Dipantara.
Sistem IoT memungkinkan petambak memantau kondisi tambak secara real-time, mulai dari pH air hingga kadar oksigen terlarut (DO). Seluruhnya berbasis data dan bisa diakses melalui ponsel. Sementara itu, aerator Venjet membantu menyuplai oksigen secara merata hingga ke dasar tambak sehingga kualitas air tetap terjaga.
Baca juga: Hari Lahir Pancasila, Lamongan Teguhkan Semangat Persatuan dan Kerukunan
Menurut Pak Yes, digitalisasi budidaya perikanan menjadi strategi untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat daya saing perikanan Lamongan di pasar nasional maupun internasional.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lamongan, Yuli Wahyuono, menjelaskan bantuan yang diberikan meliputi 150 unit Venjet lengkap dengan pelampung, box VE, modem internet, dan router. Teknologi tersebut berfungsi menjaga kualitas air, menstabilkan pH, meningkatkan kadar oksigen, merekam kondisi tambak, serta mendukung sanitasi.
"Harapannya, teknologi ini mampu meningkatkan produktivitas dan hasil budidaya. Kampung Kerapu memiliki luas tambak sekitar 350 hektare yang dikelola enam kelompok pembudidaya, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara luas," kata Yuli.
Baca juga: Lamongan Pertahankan WTP 10 Tahun Berturut-turut
Salah seorang petambak, Lasturi, mengaku teknologi tersebut sangat membantu proses budidaya. Selain meningkatkan kadar oksigen, sistem pemantauan kualitas air secara langsung membuat petambak dapat segera mengambil langkah saat kondisi tambak berubah.
Data Dinas Perikanan Kabupaten Lamongan mencatat, Kampung Kerapu menghasilkan panen mencapai 1.836 ton sepanjang 2025. Produksi tersebut telah dipasarkan hingga ke luar negeri melalui perusahaan mitra dengan harga jual berkisar Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram.
Editor : Bagus Suryo