JATIMKINI.COM, Bagi sebagian orang, masa pensiun identik dengan berhentinya aktivitas profesional. Namun, anggapan itu tidak berlaku bagi para alumni Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Surabaya-AWS (Stikosa AWS).
Mereka justru membuktikan bahwa usia senja adalah waktu terbaik untuk terus menulis, berbagi pengalaman, dan meninggalkan jejak pemikiran bagi generasi berikutnya.
Baca juga: Sasetya Wilutama Merilis Buku Perdana: Wong Katrok Merambah Media
Semangat itu diwujudkan melalui Komunitas Penulis Alumni AWS Kampus Kapasari Surabaya (KOMPAKS) yang konsisten menerbitkan buku-buku kompilasi.
Setelah melahirkan Kawah Pena Hebat pada April 2026, komunitas tersebut kini tengah menyiapkan Kawah Pena Hebat II, sebagai ruang berkumpulnya gagasan sekaligus perekat silaturahmi antaralumni.
Produktivitas para alumni mendapat apresiasi dari dosen senior Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga, Siti Sutarsih Andarini.
Menurutnya, para mantan wartawan dan praktisi komunikasi itu telah membuktikan pesan Pramoedya Ananta Toer bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian.
"Alumni Stikosa AWS luar biasa. Mereka memanfaatkan bonus usia bukan untuk berhenti berkarya, tetapi justru terus menghasilkan tulisan yang bermanfaat.
Semangat seperti ini sangat menginspirasi," ujar Andarini saat menghadiri reuni Sambang Kampus Stikosa AWS Kapasari di Surabaya kemarin
Andarini yang pernah mengajar di Stikosa AWS pada 1975–1991 mengaku bahagia dapat kembali menginjak kampus lama dan bertemu para alumni yang kini tersebar di berbagai media, mulai TVRI, RRI, LKBN ANTARA hingga media regional dan nasional.
Baca juga: Imung Mulyanto: Identitas, Refleksi Diri, dan Catatan Perjalanan Yang Memikat
Baginya, semangat literasi yang tetap terpelihara menjadi bukti bahwa seorang jurnalis tidak pernah benar-benar pensiun dari pengabdian kepada masyarakat.
Momentum reuni juga diwarnai peluncuran buku "Drs Adji Darmo, Sahabat, Dosen-Ku", yang memuat 25 tulisan alumni lintas angkatan untuk mengenang 100 hari wafatnya dosen jurnalistik yang dikenal sederhana, disiplin, dan penuh dedikasi tersebut.
Alumni angkatan 1979, Riamah MD, mengenang Adji Darmo sebagai sosok pendidik yang sabar, terstruktur dalam mengajar, dan tidak pernah pelit membagikan ilmu.
Menurutnya, bekal jurnalistik yang diberikan almarhum menjadi modal berharga dalam perjalanan karier para alumninya.
Baca juga: Catatan Kecil Reuni Alumni AWS '83
Sementara itu, penggagas KOMPAKS, Kris Maryono, mengatakan buku tersebut merupakan bentuk penghormatan sekaligus ungkapan terima kasih kepada para dosen yang telah membentuk karakter para wartawan lulusan AWS.
Semangat itulah yang mendorong komunitas terus menjaga tradisi menulis agar pengalaman, nilai, dan idealisme jurnalistik tidak hilang ditelan zaman.
Berawal dari Akademi Wartawan Surabaya yang berdiri pada 1964 sebagai kampus komunikasi pertama di Indonesia Timur, Stikosa AWS telah melahirkan banyak jurnalis dan praktisi komunikasi.
Kini, meski telah memasuki masa purnatugas, para alumninya membuktikan bahwa pena tetap menyala. Sebab, selama masih menulis, ilmu dan pengabdian akan terus hidup melintasi zaman
Editor : Ali Topan